Selasa, 16 Juli 2019

Sedang aku, ikhlas!

29 Juni 2018, tepat dimana aku merasa canggung bertemu dengan orang baru yang sering kau sebut sebagai ibu. Beliau begitu ramah untukku yang baru saja memulai kata "selamat malam, maaf merepotkan" . Lalu beliau menjawab "minum teh dulu biar hangat, sebab angin terlampau kencang bersemangat".  Kau dan ibumu tampak begitu dekat, sedangkan aku masih merasa canggung untuk menjawab. Batinku berkata "ah, untung saja tidak ditanya apa-apa" . Mungkin beliau yang kau sebut ibu sudah tidak asing lagi mendengar namaku. Beliau yang sempat menjadi tempat peraduan kisah mu denganku. Dan hingga beliau ingin tahu dan kamu menunjukkan salah satu fotoku. Katanya "manis, giginya tidak rapi seperti Adikmu"  . Bahagianya aku kala itu, sempat dekat dan bercumbu dengan adikmu, adik yang sifatnya hampir sama denganku. Berambut ikal, manja padamu. Aku mencintai dia, yang baru saja aku tatap. Dia yang dengan polosnya melihatku siapa, yang duduk bersebelahan denganmu pada pertama kalinya. Adel, begitu kau memanggilnya. Aku tidak tahu, rasanya malam itu terlampau cepat berlalu. Pukul 10 malam, aku membangunkanmu mengajak pulang. Kamu yang setengah mengantuk, memaksa untuk membuka mata dan mengangguk. Tanda mengiyakan ajakanku untuk pulang. Aku tahu, saat itu kamu sedang letihnya  karena perjalanan. Dan kau dengan sabar "iya, kita pulang sekarang".  Dan kau menciumku lalu bergegas berdiri untuk berpamitan.  Ibumu menahanku untuk tetap tinggal. Mungkin beliau kasihan melihatmu kelelahan seharian. Dan aku tetap pada pendirianku untuk kembali.
Pada tengah perjalanan, kita saling menangis, memeluk keadaan. Kau menggenggam tanganku erat, dan aku memelukmu dengan hangat. Jaket merah yang kau pinjamkan karena aku menggigil kedinginan, basah kuyup dengan air mata kepedihan. Ya, kita berpisah, kalah oleh keadaan. Bahagiaku datang secepat itu, dan pergi semudah itu. Aku mencintaimu, tulus. Dan kau pun sama. Sedang keadaan terlampau berbeda.

Kini, kita telah melupa. Menjadi sepasang dua orang asing yang tidak mengenal, satu sama lain. Semoga kau bahagia bersama dia, seterusnya.

@dyah_fi Surabaya, 16 Juli 2019

Selasa, 14 Mei 2019

Kau tahu

Kau tahu apa yang lebih menyakitkan daripada kesepian?

Senja sore kala itu. Jingga, merekah, mewah. Begitulah kira-kira. Dan aku tetap duduk sendiri pada bangku kosong yang setiap hari hampir kududuki. Bosan, tidak ada sedikitpun rasa itu..

Aku suka tempat itu. Tempat dimana sajak dan puisiku tetap terdengar nyaring oleh untaian kata yang tidak pernah mendapat balas.

Mengirim pesan tak ada jawaban. Menunggu kepastian tak kunjung datang.

Aku tidak tahu siapa yang bodoh dalam hal ini. Rupanya, kita sama-sama bodoh. Aku bodoh tetap mendambamu, kamu bodoh karena telah buta pada yang pasti.

Aku tetap tidak tahu rahasia apa yang pernah kamu bicarakan sebelumya, hingga aku tetap tidak pernah tahu pada apa yang membuatmu pergi, kala itu.

Kamu tahu, setiap sakit  aku hanya ingin sembuh. Setiap kumat aku hanya ingin terawat. Setiap rindu aku ingin kamu yang menjadi obat.

Kamu tahu apa yang lebih sakit daripada kesepian?? Yang lebih sakit daripada kesepian adalah berbincang dengan diri sendiri, menyakini sepenuh hati, jika kamu tetap tinggal dan tidak pergi sedangkan kenyataannya kamu hilang dan tidak kunjung kembali.

@dyah_fi Surabaya, 14 Mei 2019

Minggu, 07 April 2019

Ikatanku.


Selamat pagi, Ahad 07 April 2019

Hai, bagaimana kabarmu kawan? Entahlah, aku merindukanmu secara tidak sengaja.  Aku rindu masa dimana aku masih sanggup untuk memelukmu enam tahun lamanya.

Ya, aku menyebutmu dengan istilah "PENA". Hai ikatanku, sebenarnya aku masih ingin untuk tetap memelukmu, masih ingin bersamamu, masih ingin berjuang denganmu.

Aku tidak tahu seberapa besar aku mencintaimu dalam diam. Sebab mungkin tanpamu, aku bukan apa-apa.

Aku merasakan banyak yang berubah setelahku disini. Aku merindukan "aku" yang dulu. Iya, saat aku masih menjadi aku yang polos, lugu, santun, dan banyak hal baik lainya.

Hai ipm, aku mencintaimu tanpa syarat dan tidak akan pernah sudah.

@dyah_fi Surabaya, 07 April 2019

Sabtu, 30 Maret 2019

Kala

Malang, 30 Maret 2019

Aku tidak tahu untuk apa aku kembali di kota ini lagi, yang ku tahu tempat ini menyimpan banyak cerita yang pernah aku lewati. Dingin, manis, keramahan. Kidal, kala itu .

Aku terlalu suka tempat ini, hingga aku tidak pernah punya salah untuk tidak kembali. Rasanya terlalu rumit jika aku menjelaskannya secara rinci, tapi begitulah adanya.

Kau sempat mengajakku menyusuri jalan setapak itu, mengajak singgah sebentar,  dan aku mendapatkan kehangatan dari mereka yang kau anggap keluarga.

Teh itu tak pernah terasa dingin, sebelum gemetar sudah menjalar dan mengalir. Dugaan tentang tidak diterima, takut salah kata, dan banyak hal lain tentang anggapan rumit yang ku ciptakan sendiri.

Mereka begitu ramah. Dan aku menyukainya.
Ibumu, ayahmu, adikmu, kakakmu dan semua yang kamu kenalkan kepadaku.

Rasanya lucu,  merasa asing yang bagimu sudah terlalu biasa. Ah, kala itu.

@dyah_fi 30 Maret 2019

Jumat, 29 Maret 2019

Dan tentangku

Jika kaki ku tak mampu lagi untuk menapak, ku harap ada tangan yang akan menuntunku untuk berjalan

Jika mataku sudah tak jelas memandang, ku harap ada dekapan yang bisa mengertiku tentang dunia

Tentangku,
Aku tahu semua akan menua pada masanya
Tanganku tak lagi kuat
Rambutku tak lagi hitam lebat
Mataku tak setajam kala memandang
Bibirku bergetar kala bicara
Langkahku perlahan gemetar
Dan aku, kehilangan keseimbangan

Tongkat tua itu akan menjadi temanku
Suatu saat,
Jika dirimu atau diriku telah lebih dulu sekarat
Percayalah, tentangmu tak akan tamat

Rasaku tetap abadi,
Kini, esok, dan setelahnya nanti

Aku percaya,
Sebab Tuhan telah menceritakan
Aku, kamu, kita
Tua dalam ikatan rasa

Dan aku,
Tetap pada rasaku sebenarnya!

@dyah_fi Surabaya, 29 Maret 2019

Sabtu, 23 Maret 2019

Kini aku

Dulu, di tengah tatanan lampu kota itu aku sering menghabiskan malamku dengan ditemani secangkir cappucino, dan aku melepaskan lelahku. Selepas kerja, atau saat sedang suntuk-suntuknya.

Aku tidak tahu lagi, apakah dengan seperti itu laraku terkurangi tapi yang jelas sakitku sedikit terobati.

Dulu, seringnya aku bersamamu. Tapi bagiku kini, sendiri atau bersama rasanya sama saja.

Sekarang tempat itu sudah benar-benar asing, sudah usang, dan rasanya enggan untuk mengulang. Tapi bagaimanapun di tempat itu, aku merasa nyaman.

Semenjak kamu tiada, aku berganti nama menghabiskan sebuah cerita. Masih dengan tempat yang sama, tempat duduk yang sama, kopi yang sama, rasa yang sama, waktu yang sama, tapi aku menikmatinya dengan rasa yang berbeda.

Entahlah, apa yang membuat kopi itu terasa hambar. Padahal yang ku pesan adalah cappucino seperti biasanya. Mungkin rasanya menjadi aneh ketika aku menghabiskan bersama orang yang berbeda.

Aku tidak tahu lagi, kapan lagi aku siap untuk kembali ke tempat itu. Tempat dengan sejuta kenangan, tawa, air mata, cita-cita yang pernah ku katakan sebelumnya, hingga kamu mengiyakan, dan aku mewujudkannya sendiri.

Bodohnya lagi, kenapa aku hanya memintamu untuk mendukungku? Harusnya aku memintamu untuk tetap tinggal.

Salahnya aku, berlari sendiri pada tujuanku, yang melepaskan genggaman tangan itu.

Ah, bodoh.

Dan kini, aku tetap berdiri, tetap berlari sendiri. Sedang kamu telah pada pencarianmu.

Maaf, dulu aku tak sempat mengajakmu berlari, hingga kamu tertinggal, dan kini aku sendiri.

@dyah_fi Surabaya, 23 Maret 2019

Rabu, 20 Maret 2019

Bersyukur itu harus

Terkadang hidup tak melulu bisa beriringan dengan yang diharapkan. Aku inginnya apa, takdir berkata apa. Lucu ya, terkadang manusia tidak sempat untuk memandang luas arti syukur. Mungkin mereka tidak tau caranya, atau mungkin memang mereka tidak merasakannya?

Entahlah, serupa ombak yang mencari peraduan, aku sang pengelana mencoba untuk mencari celah dimana aku harus tau tentang makna.
Bayangkan saja, hidupku dipenuhi dengan canda, tawa, tangis, bahagia, lalu sedih. Dan fase itu terjadi secara berulang-ulang, dan aku tidak bosan.

Apakah seperti itu yang dinamakan dengan hidup??

Sejak saat itu aku mulai menyadari, jika yang datang belum tentu dia akan menetap, yang sudah menetap tidak memungkinkan kesempatan untuk pergi, yang pergi bisa saja kembali, atau bahkan yang tidak diharapkan akan senang hati untuk datang.

Tuhan punya skenario terindah, suatu hari nanti. Entah kamu suka atau tidak, itu urusanmu. Dan yang jelas kamu harus yakin jika itu adalah yang terbaik.

Dia mematahkan hatiku, kini. Atas seseorang yang ku perjuangkan hingga rasa mati. Dia sudah bahagia, yang ku tahu. Aku, masih disini saja.

Entahlah, pikiranku tidak pernah lepas oleh bayangan semu itu, dan aku berusaha untuk menepisnya. Dia datang lagi dan lagi. Aku sudah mencoba untuk kuat, berusaha untuk tidak ingat, tapi apa boleh buat jika rasaku padanya masih melekat.

Aku mencoba untuk meniadakan yang sudah ada, yang tetap ada. Dia tidak kunjung hilang, malahan ketika aku berusaha untuk melupakan, dia semakin kuat di ingatan.

Mungkin itu takdir Tuhan yang mengingatkan ku untuk kembali berserah padanya. Mungkin Tuhan iri, aku dekat dengan dia, tapi aku tidak dekat dengan DiriNya.

Mungkin dengan cara itu, Tuhan berharap aku untuk mengingatnya lagi. Menjadikan aku yang lebih pantas, atas salah yang terlintas.


"Cintai dulu Rabbmu, maka kamu akan menemukan orang yang bisa mencintaimu dengan caraNya"

@dyah_fi Surabaya, 18 Maret 2019

Senin, 18 Maret 2019

Maaf.

Maaf, tentang kepergian aku tidak pernah mampu untuk menjelaskannya dengan rinci, sebab aku tidak pernah berpikir pergi bisa secepat itu menghampiri.

Tentang ketertinggalan, aku tidak pernah merencanakan, karena aku tidak pernah bermimpi untuk menjalankan.

Jika memang takdir tidak memberi restu, tak apalah aku seperti ini. Menjadi aku yang dahulu, terasing, tak teringat.

Jika kamu selayaknya yang baik, pasti aku yakin jika kamu selalu bisa menjadi bijak dalam berpikir.

Aku selalu mencoba untuk tetap baik, tak buruk sangka, tidak pernah menduga-duga. Meskipun pada akhirnya, akulah yang salah atas keyakinanku sendiri.

Cerita tentangmu hanyalah sebagai warna pada jalanku,
Meskipun terkadang aku tetap rindu.

Yang sudah, biarlah. Aku mencoba untuk merelakan. Aku tidak ingin memaksa apa yang seharusnya harus tanggal, memintanya untuk tinggal, sedang keinginannya ingin hilang.

Jika kamu ingin pergi, silahkan. Aku tidak pernah melarang. Namun jika kamu ingin kembali, maaf. Aku tidak seperti aku yang dulu.

Mungkin aku akan tetap menerimamu sebagai kawan lamaku, yang sempat bergurau pada senja, yang biasa makan bersama, menikmati dinginnya malam pada hitam kopi yang tetap ku suka.

Alam tau kemana langkahku akan tertuju, yang mungkin sekarang sudah tidak tertuju lagi padamu.

Alam tau kemana aku harus melangkah, dia tidak tega aku terus berkeluh kesah.

Alam baik padaku, tetap memberiku kawanan bahagia, yang sempat terhapus oleh luka.

Karena Allah mencintaimu, Dia mematahkan hatimu dengan sangat.

@dyah_fi Surabaya, 18 Maret 2019

Senin, 11 Maret 2019

.

Di setiap perjalanan hidup, akan ada masa dimana kamu benar-benar sudah letih dan berusaha untuk menyerah, tapi hatimu tetap menuntut ego untuk tidak berkeluh kesah. Setiap hidup selalu punya rasa bahagia, sedih, tertawa, haru, menangis, dan rasa lain yang mungkin tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Tapi apakah kamu tahu jika semua rasa itu adalah bagian nikmatnya perjalanan mencari keabadian???

Aku sama seperti kamu. Punya lelah, punya sakit, punya bahagia. Terkadang, aku pun juga merasakan jika aku benar-benar kacau dalam perjalananku, yang kehabisan bekal hingga merasa kehausan. Yang tersesat karena tidak tahu tujuan pulang. Tapi, nikmatnya sakitku tetap terasa nikmat bagiku. "Iya, setiap orang punya kadar kekuatannya sendiri" . Begitu kata mereka.

Lalu soal bersyukur, aku pun kadang kurang menyadari tentang nikmat Sang Semesta. Banyaknya keluhku ternyata tidak sebanding dengan bahagia yang ku terima.

Pikirku, terkadang kita harus mengorbankan apa yang menjadi kebahagiaan di hari ini. Bukan karena Tuhan tidak sayang, tapi karena Dia akan menggantinya dengan yang lebih besar. Mungkin di mata mereka, aku adalah orang yang sok bijaksana, tapi bukankah kalimatku  benar adanya ??  Siapa yang bisa menyangkal dengan dalil yang sudah ditetapkan?

Entahlah, aku tidak tahu apapun yang akan terjadi setelahnya. Bisa saja aku tetap menjadi aku yang pemalas, yang hanya duduk diam memelas, sedangkan takdir dan hidup sudah dilukiskan. "Ah, aku payah" . Kataku.

Oke, hidup bukan menyoal tentang kamu, atau aku yang sudah berusaha mati-matian mencari ketenangan, memeluk dunia, hingga lupa pada Pencipta, tapi tentang damainya hati ketika merengkuh cinta Sang Pencipta untuk lebih baik nantinya.

"Karena Allah mencintaimu, Dia mematahkan hatimu dengan sangat"

@dyah_fi Surabaya, 11 Maret 2019

Rabu, 06 Maret 2019

Sang pengidola

Jika kamu benar-benar sudah bahagia, tolong beritahu aku, supaya aku bisa melepasmu dengan rela.

Jika kamu benar-benar telah menemukan yang pas, tolong beritahu aku supaya hatiku tidak selalu cemas.

Jika kamu sudah benar-benar lupa, tolong beritahu aku, jika kamu tidak akan pernah berada pada kembali.

Kamu adalah tetap yang menjadi bahan perbincanganku dengan Tuhan.

Tentang bahagiamu yang selalu  ku nomor satukan,
Sedang bahagiaku menjadi nomormu yang sekian

Aku tau, gelombang yang pasang tak akan mengembalikan kenangan kita yang usang
Serangkaian mimpiku tak pernah padam tentangmu yang sudah tenggelam

Bersama air mata aku menceritakanmu selanjutnya
Jikalau memang kamu adalah fana,
Aku terhenti pada persimpangan jalan,
Yang mengisahkan kamu dan aku yang berbeda tujuan

Aku, kini.
Hanyalah seorang pemimpi
Bersamamu adalah cita-cita
Tapi bagimu, aku hanyalah sang pengidola

Lupaku tak benar-benar lupa,
Rindu yang kian mencekik, menghunus, merasuk
Tiba-tiba datang untuk kembali
Aku yang berusaha berlari
Tapi dia tetap datang menahanku berdiri

Kini,
Ketika aku benar-benar sudah terlanjur asing
Kamu,
Tetaplah mimpi yang tinggi,
Yang terus ku damba,
Hingga bibirku selalu berkicau,
Sedang telingaku tak bisa mendengar kata bising

@diyah_fi Surabaya, 06 Maret 2019

Senin, 04 Maret 2019

Kita pernah

Dulu, kita pernah sedekat urat sebelum akhirnya perpisahan datang memberi sekat. Aku, kamu, mimpi kita pernah melayang tinggi jauh ke angkasa, sebelum akhirnya Tuhan berkata kita harus berpisah. Lalu, bagaimana kabarmu kini?
Hari-hari berlalu, dan aku masih rindu. Ku pikir tentangmu harusnya sudah tapi aku masih saja mengingatmu. Entahlah, senyummu masih saja membuatku terpesona. Gigi kelincimu masih terlihat manis, meski ku tahu senyummu bukan lagi karena ku dan untukku. Tapi aku masih suka bertanya, 
"Kenapa fotomu tetap saja menggetarkan dada?"
Hai, apa kabar masa laluku? Aku rindu kamu. Namun aku tak bermimpi lagi aku bisa bersama.  Bisaku adalah aku berdoa semoga engkau tetap dalam keadaan baik-baik saja. Mungkin kata-kata ku engkau anggap terlalu bijak. Namun begitulah aku, berbesar hati melepasmu.
Dan saat itu, ketika aku melihatmu dengan wanita yang kau pilih setelahku. Aku tersenyum, berdoa dalam hati semoga dia bisa lebih memberi bahagia. Namun di sisi lain, tanyaku terngiang di kepala. 
"Siapakah gerangan dirinya yang menggantikanku secepat itu?"
Bisikku pada penasaran.
Lalu waktu menjawab dengan sendirinya. Dia adalah gadismu yang baru, yang berhasil membuatmu melupa, yang memberimu bahagia, yang ada padamu kala lelahmu tidak terkira.
Hancur saja rasanya kala itu, melihatmu dengan dia, yang ku tahu kamu sudah bersamanya.

Setelah itu, aku memutuskan untuk pergi. Menghapus seluruh kontakmu, dan aku benar-benar pergi jauh untuk melupakanmu, menjadikan diriku yang asing, selayaknya aku yang belum mengenalmu tempo dulu.
Lalu Tuhan bercanda, dia mempertemukan kita kembali, pada pekerjaan yang sama, pada waktu yang tidak ku harapkan sebelumnya. Tuhan mengujiku dengan senyummu lagi.
Ku pikir, rasanya kakiku sudah lelah berlari. Dan aku memutuskan untuk kembali menerimamu sebagai kawanku meskipun aku belum bisa sepenuhnya menghapus rasaku padamu. Aku ingin bersikap biasa saja, selayaknya kamu yang sudah melupa. Hatiku belajar berbesar hati. Menerima takdir yang sudah terlukis kembali. Aku mencoba memperbaiki hubungan pertemanan kita, sebab aku sudah rela jika kita sudah tidak bersama. Kamu mempertanyakan kepergianku, katamu "untuk apa aku pergi". Tapi biarlah, kamu tak usah tahu sakitku dahulu, saat aku melihatmu bahagia dengan dia yang menggantikanku.

Biarlah kini kita tetap berteman baik, tak usah berpikir kita akan kembali suatu hari nanti meskipun aku tau, aku masih menginginkannya.
"Setiap orang punya caranya sendiri untuk melupa seperti kepergian ku dulu. Dan salah satu bukti dari sikap dewasa adalah berani berteman dengan masa lalu"
Untuk itu aku kembali, untuk memperbaiki

@dyah_fi Surabaya, 04 Maret 2019

Kamis, 28 Februari 2019

Sebuah renungan untuk lebih baik

Akan ada saatnya dirimu menjadi seorang pelupa. Pelupa atas masa lalu yang membuatmu kesal, bahagia, haru, tertawa, menangis, dan kenangan yang ingin kamu kubur dalam-dalam. Bukan karena kamu membenci kenangan itu, tapi memang kamu harus melangkah tanpa harus mengingatnya. 

Kamu hanya perlu menjadi dirimu sendiri, melakukan apapun yang kamu mau tanpa harus mengingat yang lalu. Masa lalumu tak perlu kamu tangisi, sebab tangismu sudah tidak berarti. Menyesal, boleh saja. Asalkan kamu punya tujuan yang lebih besar daripada harus meratapi kejadian-kejadian yang sudah  terlewati.


Hidup akan lebih mudah jika kamu berniat untuk merubah. Merubah kesalahanmu yang lalu, dengan tidak mengulanginya kembali. Serangkaian rencana harus tetap berlaku, jangan hanya sebatas wacana untuk dijadikan bahan bercandaan.
Bukankah setiap manusia punya sisi baiknya sendiri?? 
Terlepas dari itu semua, kamu hanya perlu  berusaha untuk lebih baik, menjadi lebih bijaksana, supaya hidupmu tidak begitu sia-sia. Manusia kadang berpikir semudah itu berbicara, tapi dia tidak bisa mengimplementasikan dalam dunia nyata. Kata-kata akan lebih mudah dicerna daripada harus dilakukan. 
Begitulah pada kenyataannya.

Kamu hanya perlu menjadi buta dan tuli, sebab kedua tanganmu tidak cukup untuk menutup mata, dan bibir mereka yang berkata. Ini hidupmu, bukan hidup mereka. Bagaimana pun kamu, kamulah yang mengerti baik buruknya dirimu, tentang hidupmu yang pernah hancur sebelumnya, tentang mereka yang berkata tanpa mengerti, dan tentang dirimu yang berusaha memperbaiki.

Mereka tidak mengenalmu, dia hanya tau dari cerita angin yang mengudarakan kabar. Tapi tentang peduli, mereka tahu apa?? Bersedihlah sewajarnya, sebab hidupmu tergantung pada keputusan yang kamu ambil, kini. Tentang wacana, tak perlu kamu berusaha menjelaskan bagaimana cerita mu bisa diambil, sebab rangkaian kata dan doa, kamu adalah yang paling bisa adil.

Mengertilah, sejatinya manusia hanya ingin yang terbaik, bukan untuk tetap berada di roda paling atas, tapi tentang perubahan yang harus tetap dijalankan. Akan ada masanya kamu menjadi orang yang paling apatis terhadap lingkunganmu sendiri, sebab mereka yang tidak pernah bisa memahami pemikiran yang logis, kritis dan analis.


@dyah_fi Surabaya, 28 Februari 2019 22:19

Jumat, 22 Februari 2019

Karena Allah mencintaimu, Dia mematahkan hatimu dengan sangat

Setiap orang berhak atas pengharapan dan kenyataan, tapi tidak selamanya yang diharapkan akan berakhir dengan mendapatkan. Semudah itulah Allah memberimu kenikmatan. Dia tidak memberi yang kamu ingini, tapi memberimu apa yang menjadi kebutuhan. Allah dengan mudahnya membolak-balikkan hati, dengan mengatakan Kun fayakun, semua akan terjadi. Begitupun juga kamu, harus pandai mensyukuri agar nikmat yang kamu rasakan tidak bisa kamu kufuri. Allah dengan cuma-cuma memberimu bahagia, tapi kamu sering lupa hingga tidak pernah sadar jika nikmat itu ada. Apa yang kamu banggakan dengan hidupmu, jika dengan Sang Pemilik hidup engkau tak pernah mau tahu?

Allah dengan mudahnya mendekatkanmu dengan yang jauh, menjauhkan kamu dengan yang dekat, memberimu sakit yang teramat. Tapi pernahkah kamu berpikir sakitmu akan berbalas dengan nikmat yang berlipat?? Janji Allah nyata padamu, kamu hanya perlu mengusahakan apapun semampumu.
Allah tidak pernah ingkar janji, begitu Al-Qur'an menuliskan. Logikamu yang sering menyangkal. "kenapa aku harus begini?" Katamu, tak yakin pada Illahi. Aku pun juga sering seperti itu, tapi aku mencoba untuk kuat diri, memikirkan hal-hal yang membuatku bahagia, supaya sakitku tak terasa, begitulah aku menghibur diriku sendiri.

Setiap orang mempunyai jalan cerita masing-masing, seperti yang aku rasakan kini. Aku sakit, aku hancur, dan aku merasa aku tidak mampu untuk menjalani hidupku. Tapi yakinku atas keajaiban menjadi kekuatan tersendiri untukku menghadapi. Derasnya hujan, tingginya gelombang, hanya sebatas sebagai pemanis dalam ku berjuang. Mungkin aku selalu terlihat bahagia, sebahagia bagaimana aku menunjukkannya, tapi percayalah pepatah pernah mengatakan "orang yang selalu terlihat bahagia adalah orang yang paling pandai menutupi sakitnya" . Begitulah pepatah memahamiku. "Untuk apa aku terlihat lemah, terlihat hancur, jika mereka yang melihatku tidak pernah peduli dan mempunyai empati?" Kataku dalam hati.
Aku menyakinkan diriku sendiri. Allah tidak memberi sakit lebih dari apa yang menjadi kekuatan atasmu.

"Karena Allah mencintaimu, Dia mematahkan hatimu dengan sangat!"


@dyah_fi Surabaya, 12 Februari 2019

"Dan Kamu"

Aku adalah sunyi yang engkau genapi, hingga berada didekapmu aku terpenuhi.
Aku adalah kosong yang engkau isi, hingga pada bahumu sandarku tahu diri.
Aku adalah ruam pada sayatan, hingga memelukmu perihku tidak terasa lagi.

Kamu adalah segalanya,
Segala yang membuatku lupa diri Lupa akan sakit, lupa akan lara, lupa akan bahagia
Sebab segala tentangmu adalah tanpa karena.
Kamu adalah lilinku Inginku cahayamu ku nikmati sendiri,
Sedang mereka mengusirku untuk merebutmu kembali.

Aku, kalah padamu,
Mereka menang atasmu,
Lalu aku tersingkir, jatuh tersungkur
Pada harapanku yang tidak pernah terukur.

@dyah_fi Surabaya, 08 Februari 2019

Selasa, 19 Februari 2019

Katanya "indah pada waktunya"

Akan ada saatnya ragamu yang kuat, akan menjadi lemah yang terlihat, bukan karena kakimu tidak kuat menopang tubuhmu yang sudah lapuk, tapi karena dia terlalu sering untuk berjalan tanpa sedikitpun kalimat yang menguatkan. 

Dia hanya butuh sandaran sebentar, sebelum langkahnya mulai berjalan menyusuri asa yang berkepanjangan. Jeritnya tidak pernah lepas dari kata “hahaha”, meyakinkan diri untuk pantas dikatakan pahlawan. 

Dia tidak bisa dipaksa menjeritkan derita, membungkam kata yang tidak seharusnya menjadi wacana.  Dia hanya berusaha menghangatkan dingin yang sudah membekukan tubuh yang membutuhkan peluk, sedang hangatnya tidak lagi menjadi prioritas sebab kalah pada tumpuan-tumpuan masalah.

Aku tidak tahu, kenapa dia  berdiri setegak itu, karena yang ku tahu dia amatlah lemah dan lelah dalam setiap hari yang harus memaksanya berdiri. Kalbunya selembut salju yang kutahu, hatinya sehangat mentari yang berkilau, dan senyumnya seindah semburat pelangi jingga yang menyejukkan mata. 

Tapi hati dan raga sebenarnya?

Aku tau dia tidak sanggup untuk mengatakan yang sejujurnya. Dia hanya ingin terlihat kuat, untuk setiap hidup yang terlewat.

Baginya, persoalan-persoalan hidup, tak ubahlah hanya serangkaian cerita dan takdir yang harus tetap berlanjut. Untuk pemanisnya, katanya dia hanya butuh Dirinya yang selalu ada. Aku tidak mengerti jalan pikiran apa yang telah di tempuhnya, berlarian dengan kaki berdarah, dengan duri yang tertancap tajam pada telapaknya.
Logikaku tak pernah sampai untuk menceritakan cerita kelunya, dia yang selalu tertawa merasakan desiran ombak pada relung hati yang bergejolak, yang tetap meninggalkan tanya dan luka, yang dia sendiri tidak pernah tahu jawabannya. Butuh berapa lama untuk dia tetap bertahan?? Keyakinanku untuk tetap meronggah kata darinya yang membuatku tidak pernah bisa percaya pada kalimat indah pada waktunya.

@dyah_fi Surabaya, 18 Februari 2019

Kamis, 14 Februari 2019

Aku bahagia untukmu, atasnya!

Aku tidak tahu, untuk apa rindu tetap datang meskipun aku sudah tidak mengharapkan kehadirannya. Dia seakan memaksa untuk masuk lebih dalam, lalu menghancurkan aku yang sudah terlanjur berjalan. Memutar waktu, menghentikan laju. Anehnya lagi, aku dibuatnya dengan mudah menuruti segala keinginannya. Tanganku mencoba menarikku kembali, mengingatkan jika luka itu masih belum kering. Rasaku masih saja bergetar kala mengingatnya. 

Padahal, luka dengan jelas tetap tertanam, menusuk belantara. Aku tidak tau bagaimana cara menghentikannya, aku sudah mencoba untuk pergi, tapi perasaan menahanku berlari. Aku kalah pada rasa cintaku sendiri, sedangkan dia tidak pernah bisa peduli. Aku tidak tahu untuk apa rindu datang lagi, mungkin dia hanya ingin bernostalgia, meskipun aku tahu, rasa sakitnya tetap terasa. Dan aku tidak bisa mencegahnya hadir, karena yang kutahu, dia datang karena sebuah takdir. Awalnya aku mengira biasa saja, tapi lambat laun dia semakin buas mengalahkan semua. Semua kenangan yang sudah ku kubur dalam-dalam. Semua sakit yang masih terasa sedikit. 

Semua rindu, yang hanya tertuju pada kalbu tanpa pernah ada titik temu. Aku tidak bisa berkata-kata selanjutnya, diam, pasif, menunggu hujan reda. Hujan yang mengingatkan ku tentang jaket yang dipinjamkan dulu, katanya supaya aku tidak kedinginan. Tapi kini, sikapnya lah yang membuatku membeku, mati secara perlahan. Aku tetap saja mengingatmu. 

Kediri, 24 Juni tahun lalu, kau memboncengku, menggenggam tanganku, dan ku kenalkan mu pada kawanku, yang dikata, aku pantas bersamamu. Tapi itu dulu, sebelum takdir berbicara tentang perpisahan. Aku tidak pernah menyesali perpisahan, aku hanya belajar untuk tetap lapang dada, tentang cerita yang sudah digariskanNya. Betapa indahnya kita kini, menjadi dua orang asing, yang dulu pernah membahagiakan satu sama lain. Ceritaku dan cerita mu hanya mampir sebentar, laksana gerimis, tanpa datang hujan. Indah, kurasa. 

Tapi akhirnya, demam dan panas yang menyiksa. Tuhan memang sebijak itu, aku memang belum baik, sehingga Dia tidak rela kamu berada dalam dekapku. Atau Tuhan sedang memberi waktu untukku, agar aku lebih memperbaiki diri, dan supaya bisa bersanding denganmu suatu hari nanti?. Ah, mimpiku hanya omong kosong, yang ku tahu, itu hanya ilusi yang ku buat sendiri. “Tapi bukankah mimpi adalah kata lain dari doa? ” Begitu aku menanggapinya. 

Sudahlah, kita hanyalah dua orang asing kini, yang ku tahu, doaku tidak akan pernah luput untuk bahagiamu, meskipun aku tahu, doamu sudah tidak lagi untukku. Berbahagialah. Kamu, berada dalam genggamannya. Aku bahagia untukmu, atasnya 

 @dyah_fi Surabaya, 14 Februari 2019

Minggu, 10 Februari 2019

Kamu tetaplah doa yang terus mengudara

Untukmu, orang yang belum bisa ku rengkuh untuk dekapku.
Kamu tetaplah doa yang selalu mengudara, hingga nanti nafasku sudah tidak tersisa.
Kamu tetaplah mimpi yang kusemogakan untuk menjadi nyata, karena bersamamu adalah sebuah cita-cita perjalanan menuju surga.
Mencintaimu aku tidak bisa memilih, memilikimu juga sama, sebab takdir dan cerita sudah di tuliskanNya.

Aku hanya mampu mengusahakanmu, sekalipun aku tau Tuhan belum memberi restu.
Aku memang tidak pandai dalam mencari, karena yang pertama bagiku adalah yang sudah terpilih.
Aku tetap berserah diri, sekalipun nanti pengharapanku hanya akan menjadi duri, yang menusukku membawa luka, lalu kabur lagi meninggalkan empedu yang ku nikmati sendiri.
Perjalananku masih panjang, aku tahu itu.
Langkahku masih kuat, dan aku sadar.

Jika mencintaimu bukanlah hal wajar.
Aku pernah mengikat janji, tapi seolah rindu sering ingkar.
Aku pernah berambisi, mengejar bahagia yang akhirnya menyakitiku sendiri.
Kini, biarlah Tuhan yang bercerita, aku akan memasrahkan kepadaNya.
Pasrah kemana aku harus berlabuh. Pasrah kemana aku akan berakhir.
Pasrah dengan siapa aku menemukan takdir.
Karena yang ku tahu, Dia adalah yang terbaik.
@dyah_fi Surabaya, 10 Februari 2019

Senin, 04 Februari 2019

"apa ini yang dinamakan kasih tidak berkisah?"

Aku dan kamu adalah cerita usang. Mimpi yang sudah lewat, nyata yang hanya memberi syarat. Hidupku sudah kujalani sendiri, hidupmu pun juga sama. Anehnya, aku yang sudah terbiasa tanpamu, mendadak hatiku bergetar untuk rasamu yang sudah pudar. Rentetan-rentetan masa lalu, kembali mengiang-ngiang isi kepalaku. "Aku sudah kuat", kataku menyakinkan. "Tapi aku rapuh", begitu kelanjutannya. Senyummu seolah bakteri yang menyebarkan virus yang berhasil menggerogoti kekebalan tubuh, aku yang seolah tangguh, mendadak hancur dan rubuh. Kita pernah semeja, pernah seirama, pernah satu langkah. Tapi itu dulu, sebelum Tuhan memisahkan dan tidak memberi restu.

Aku yakin, pertemuanmu denganku bukankah sebuah kebetulan, hingga segala mimpi pernah kita rumuskan dan untuk kita wujudkan. Tapi alam semesta senang bercanda. Mendekatkan kita yang tidak pernah saling sapa, merekatkan kita yang sudah bersama, lalu memisahkan kita yang tidak menginginkan jarak itu ada. Logikaku bertanya "apa ini yang dinamakan kasih tak berbalas kisah?" .

Kamu adalah ujian yang aku lewati sendiri, sedang aku adalah fiksi yang hampir mampir diragamu untuk engkau miliki. Aku yang pernah menangis sesenggukan di bahumu, kamu yang pernah mencoba kuat untukku, nyatanya rasa kita kalah, kalah pada keadaan yang menginginkan kita pisah. Yogyakarta adalah saksi bisu ku . Kamu yang mengatakan "semoga kita bisa bersama di sana" , sedang nyatanya aku sendiri yang mewujudkan mimpi kita. Curang saja rasanya, kita yang bermimpi, aku yang menjadikannya sendiri.
Apa kamu lupa, jika janji adalah sebuah hutang? Yang harus tetap dibayar meskipun raga sudah tidak bernyawa? Bagiku, kalimatmu adalah sebuah hutang, bagiku pun juga sama. Karena setiap kata yang terlontar haruslah diiringi dengan tindakan yang sepadan. "Kamu kalah pada takdirmu sendiri. Kamu mengalah pada kalimat "terserah", semudah itukah kamu memperjuangkan hidupmu?" Kataku mencoba membantah. Tapi kamu tetap diam saja. Diam, dan pergi pelan-pelan.

Ah, aku tidak tahu, siapa yang menjadi pengecut sebenarnya, aku yang selalu berhalusinasi, atau kamu yang hanya diam tidak perduli??! Begitulah kisahku yang berakhir dengan kalimat kelu, pahit yang kutelan sendiri, sakit yang kurawat sendiri, dan luka yang tetap berlubang lagi .


@dyah_fi Surabaya, 04 Februari 2019

Jumat, 01 Februari 2019

Selamat tinggal, sampai jumpa!

Assalamualaikum Februari
Untukmu Januari, aku tidak ingin mengatakan selamat tinggal kepadamu, sebab tentang kembalimu adalah hal yang paling aku tunggu. Terimakasih atas gurat senyummu yang sampai kini masih menjadi bayang-bayang yang indah, meskipun kamu tidak bisa ku genggam untuk menghilangkan gundah, karena aku pun juga tahu, tentangmu memang harus sudah.

Untukmu Februari, aku harap harimu tidak berlalu dengan cepat, secepat Januari meninggalkanku kini. Aku masih ingin memelukmu, merasakan hangat dekapmu, dan mencium aroma tubuhmu, hingga surga bisa aku nikmati kilaunya.

Aku hanya ingin berharap baik, sebab laluku tak ubahlah hanya huruf konsonan yang harus berakhir dengan kata mati. Februari, kamu adalah pengharapan dari setiap langkah kesendirian. Kakiku tetap akan melaju melewati setiap detik-detik yang aku sendiri tidak bisa menentang dengan berkutik. Begitulah aku, yang hanyut pada ambisi-ambisi tentang mimpi, tentang cerita yang tetap harus terlewati.

Februari, aku mencintaimu!

@diyah_fi Surabaya, 01 Februari 2019 1:45 am

Aku..

Rasanya lucu, hujan seakan tau tentang kenangan yang mencoba datang lalu membenamkan luka lagi. Entahlah, kata-kata tidak pernah habis diisi dengan sendu, tanya, dan pikiran-pikiran kosong. Anehnya lagi, situasi seakan mencari celah untuk tetap meronggah kenangan yang sudah usang, menghijaukan kembali, menyuburkan kembali, lalu terkena panas dan mati. "Ah, tahi" kataku. 

Kuatku hanyalah omong kosong, layaknya tong, terisi air dengan penuh, lalu ditendang percuma. Seperti itulah umpamanya. Betapa bodohnya aku dengan aksara, yang selalu menceritakan dia yang sudah hilang, namun bayangan tetap berdatangan. 

"Hai" kataku menyapanya. Sedikit tapi membekas pada nadi yang rumit. 
"sedang apa?" Kataku, sebuah ejaan yang menandakan jika aku rindu. 
"Masih sama?" Tanyaku menginginkan pasti. 
"Lalu apa?" Kataku dalam hati. 

Entahlah, aku masih selalu menyoal tentangmu yang hilang. Kamu yang bahagia dengannya, aku yang mencoba merawat luka. Aku hanya berusaha baik, berusaha melawan sakit dengan cerdik! Kamu tidak perlu tahu aku, yang ku ingin, kamu tetap berjalan dengan tujuanmu

@diyah_fi Surabaya, 31 Januari 2019 17:46

Sabtu, 26 Januari 2019

Yang kutahu aku kuat

Aku tidak tahu bagaimana kamu sekarang, yang kutahu kamu berada dalam genggamannya dan bahagia. Itu kabar terakhir yang kutemui pada dirimu. Semenjak saat itu, aku mulai belajar menjauh, aku yang kamu lupakan dengan angkuh. Aku mulai merangkak lagi, sedang yang ku jalani, aku sudah bisa mulai meniti. 

Tampaknya kamu baik-baik saja, mungkin jauh lebih bahagia daripada saatmu bersama ku, dengan cinta yang kamu punya kini. Sedang aku pun belajar untuk baik-baik saja, melepasmu yang aku usahakan untuk tidak menyakiti diriku sendiri. 

Kupikir, tatapmu masih sama, masih ada luka yang ku buat untukmu. Tapi bahagia mu lebih nampak daripada apa yang aku lakukan. Begitulah tuhan membalasmu. Entahlah, aku masih saja belum bisa bergerak lagi, apa karena aku terlalu tulus untuk mencintai? Atau karena aku belum punya pengganti yang selayaknya kamu? Entahlah, aku tidak tahu.

Hari-hariku tak pernah terasa berat seperti biasanya, mulai biasa, terbiasa, hingga benar-benar lupa. Tapi Tuhan berkata lain lagi, mempertemukanku denganmu dan dengan mudahnya lupaku benar-benar lupa. Lupa jika aku pernah berusaha kuat untuk melupa, lupa jika aku pernah mendekapmu, lupa dengan suara dan tatap matamu.

Ah, Tuhan memang suka bercanda, mempermainkan hati yang sudah terlanjur pulih kembali, atau mungkin Tuhan hanya memberiku persoalan lagi yang Dia harap aku mampu untuk menanggapi? Alam raya, bergerak begitu saja. Runtuh, lalu hancur lagi.

Sudahlah, tidak perlu aku menyesali, yang sudah, biarlah sudah. Yang hilang, biarlah menjadi kenang. Nyata memang akan lebih baik daripada euforia sesaat, meskipun pada nyatanya "nyata" tidak selalu memihak kita.

Aku pikir aku kuat, kuat untuk berdiri sendiri, jatuh, rapuh, merangkak, lalu berdiri lagi. Langkahku masih saja memaksaku untuk berjalan, yang kutahu hidupku memang masih panjang. Cita-cita ku melambai, mengajakku untuk segera menggenggamnya. Ah, rasanya otakku mulai panas, bercampurnya argumen dengan hati yang tidak pernah mengalami kesepakatan. Sampai kapan aku seperti ini? Terbunuh pelan-pelan oleh mimpi yang belum bisa ku wujudkan. Ah, tunggu saja aku di persimpangan, kan ku jemput dirimu, dengan senyum dan genggam erat tangan. Aku mencintaimu.

@diyah_fi Surabaya, 26 Januari 2019

Apa yang salah?

Tuhan, apa yang salah dariku yang berharap dia berada dalam genggaman sedang takdirMu belum mengijinkan?

Aku yang buruk untuk dia yang sempurna, atau dia yang terlalu tinggi untukku? Hingga Engkau bena-benar tidak rela aku bersama dia. Tuhan, tolong jawab tanyaku sedikit saja, supaya gundahku ada balasnya.

Berhari-hari hingga bulan berganti , rasaku menyangkal atas pergimu. Dulu, kisahku terlalu indah hingga aku benar-benar lupa, jika yang indah akan pergi, yang buruk akan terganti, dan yang hilang hanya akan menjadi kenang.

Apalah hanya seperti itu ceritaku, Tuhan? Aku mempercayaiMu tanpa mengubah rasa percaya ku, yang aku tahu, Engkau adalah yang baik dari yang terbaik. Aku meminta dia kepadaMu, sedang Engkau tak memberi restu.

Tuhan, maafkan hambaMu yang kacau saat aku melihat hambaMu yang sedang jauh. Memeluk pilihannya, sedang aku yang memilihnya tidak bisa menggenggamnya lama-lama. Engkau selalu tahu doaku kan? Engkau selalu tau siapa nama yang ku sebut dalam tengadahku, dan dalam sujud ku. Hingga aku benar-benar lupa, jika aku terlalu berbelas untuk "engkau untuk Engkau mengabulkannya. Entahlah Tuhan, aku tidak terlalu pandai berkata "aku mencintaimu", karena aku tahu, kamu tidak memberi dia rasa .

Tuhan, biarkanlah aku karam atas ceritaMu, yang enggkau tulis, biarkan aku menjalaninya dengan tulus.

Senin, 21 Januari 2019

Jogja kala itu

Jogja, 28 Januari 2017

Tentang cerita, selalu ada kisah disetiap kalimat kasih. Dulu, pernah ada kata "bersama" sebelum akhirnya "berpisah" menjadi "solusinya". Takdir tidak pernah bercerita dia akan menjalani akhir. Takdir tidak pernah bisa ditebak, sedang pemikiran selalu berarak-arak.

Januari,tahun lalu, pemikiranku selalu berakhir dengan kalimat "aku akan berusaha, mengusahakanmu sebelum Tuhan berbicara mengenai perpisahan" . Aku tidak pernah menginginkan setiap kata "pisah" . Tapi, apa dayaku yang tidak bisa menang dari garis Tuhan kala itu. Januari memang tidak pernah ada akhirnya untuk sebuah cerita. Tentangku dengan dirinya yang kini telah menjadi masa lalu. Menghabiskan malam pada temaram kilau lampu Malioboro, tempat dimana aku dan dirinya menghabiskan Januari bersama, aku yang berusia 20 tahun, sedang dirinya lebih tua 2 tahun dariku.

Pemikiran-pemikiran yang berbeda, menjadikan aku dan dirinya bersama, 2 tahun lamanya. Sebelum akhirnya aku berpisah karena Tuhan mengujiku dengan hati yang "katanya" lebih baik. Aneh saja rasanya, aku yang selalu berusaha untuk membangun cinta, seketika itu rubuh kokoh bangunannya. Anehnya, aku yang jarang terlihat nyaman dengan orang lain selain dirinya, tiba-tiba saja lebih mudah menyandang kata sayang. Entahlah, setan mana yang mempengaruhiku kala itu, hingga aku melepaskan dirinya yang dengan tulus berkorban untukku.

Bodohnya aku yang membiarkan rasa itu semakin tumbuh, hingga membuat benalu-benalu itu semakin menggerogoti rasa yang sudah terlanjur terombang-ambing. Bodohnya aku kini, kalah oleh takdir, kalah oleh rayu bahagia yang fana, sedang dia yang ku pilih, akhirnya hanya singgah sementara. Ah, sudahlah, aku tidak perlu menyesali, sebab itu pilihan yang sudah ku pilih dan harus ku jalani. Biarkanlah, aku karam atas takdir yang ku pilih sendiri, dengan luka memar-memar yang ku sembuhkan sendiri. Terimakasih Tuhan, Engkau menyayangiku dengan memberi sakit.

"Karena Tuhan mencintaimu, Dia mematahkan hatimu dengan sangat"

@diyah_fi Nganjuk, 21 Januari 2019

Minggu, 20 Januari 2019

Merindumu, aku tetap sama

Malam ini, mungkin sama seperti kemarin, masih hujan, masih dingin, dan masih sepi. Tapi rasanya ada yang berbeda. Entahlah, rinduku padamu semakin membuncah tak berarah. Entahlah, aku tidak tahu harus membawanya kemana, karena aku tahu, yang kurindukan adalah rasa yang tak wajar. 

Hari-hariku tampak kosong, seperti biasanya. Yang ada semakin hari aku semakin terlihat seperti orang pikun, tertawa sendiri jika mengingatmu, menangis sejadi-jadinya jika ingat kamu tidak lagi ada dalam detikku. 

Bodoh saja rasanya aku, yang masih bermimpi kamu ada. 

Mungkin kamu sudah lupa rasanya, ketika aku memintamu untuk mengantarku pulang, membuntutiku dari belakang, supaya kamu memastikan jika aku pulang dalam keadaan aman. Lucu saja rasanya, hal-hal sederhana itu bisa membuat kita sama-sama tertawa, terlepas dari kepenatan setiap harinya. 

Kamu mengajakku menikmati malam dengan secangkir cappucino hangat, yang kamu tahu itu adalah kesukaanku, sedang kamu dengan kopi hitammu, rasanya kita tidak pernah memiliki persamaan tapi bisa saling menyatukan. Sebuah topik tak pernah habis untuk dibahas, berbincang mengenai sebuah kosa kata lucu, yang kutahu, maksudmu hanyalah membawaku supaya aku bisa hanyut dalam suasana yang kau buat. Anehnya, aku yang terkadang tidak pernah mengerti jalan pikiranmu, bisa semudah itu mengangguk dan setuju. 

Ah, andai saja malam itu tidak pernah berlalu, mungkin aku dan kamu masih bersatu. Tetap menikmati malam Minggu dengan secangkir kopi di bawah temaram lampu samar-samar. Bahagiaku sesederhana itu. Bersamamu, tertawa, lalu bermimpi indah.



@diyah_fi Surabaya, 19 Januari 2019

Jumat, 18 Januari 2019

Sedihku, bahagiamu


Yang kutahu, indah adalah sebuah kamuflase dari kata "resah", yang berharap untuk datang, tapi dalam kenyataannya malah hilang. Pernah memperjuangkan, tapi perjuangan itu tidak berbalas dengan sepadan. Senja yang indah, hanyalah sebuah perumpamaan dari kalimat "datang lalu pergi pelan-pelan" .


Kamu manis, tapi sayang, ucap dengan pengorbanan tak layak untuk disebut persamaan. Jika memang kamu tidak bisa sesungguhnya, tolong, jangan singgah lalu pergi begitu saja. Hatiku tak kuasa menahan tanya yang memaksa untuk ada jawabnya. Ragaku tak bisa selalu menyanggah jika kamu tidak pernah ada hadirnya. 

Senyummu yang dulu hangat, sekarang entah kemana.. mungkin tertelan bumi yang sudah bosan dan haus kasih sayang. Seperti itulah perumpamaanmu, aku yang mencoba untuk tetap tangguh, malah kamu hancurkan dengan menyeluruh. Aku yang mencoba untuk kuat, malah kamu paksakan untuk menjadi sekarat.


Mungkin itu yang disebut berjuang, namun tak mendapat balasan yang sepadan... Atau, mungkin kamu yang terlalu sadis untukku yang mencoba selalu menelan kata manis. Aku bahagia kamu bahagia, namun sayangnya, sedihku adalah hal yang membuatmu bahagia adanya.





@diyah_fi Surabaya, 18 Januari 2019

Tentangmu yang ingin pergi

Hujan malam ini

Selamat malam hati yang resah menunggu pasti, kabarmu adalah hal baik yang selalu kunanti, meski kutahu itu adalah hal yang tidak mungkin untuk terjadi. Malam ini aku bertemankan dengan sang kopi. Rasanya masih sama, manis dan sepah dalam ampasnya. Tapi dia adalah rasa yang sempurna, nikmatnya dalam menunggumu tak pernah terasa sakit sebelumnya. Kopi dan buku "Garis Waktu" menjadi penghangat malamku kini, meski dulu kutahu ada notif darimu setiap hari.

Lambat laun kamu hilang nyatanya. Pergi dengan meninggalkan tanda tanya. Lalu apa yang kamu mau? Aku yang pergi, atau kamu yang ingin berlari? Siapa yang salah sebenarnya? Aku yang masih memperjuangkan untuk menggenggam atau keinginanmu untuk hilang? Apa yang sedang kamu cari? Di luar sana, aku tahu ada yang banyak lebih menggoda, dia yang parasnya rupawan, dirinya yang berkawankan uang, atau dia yang berbeda yang menjanjikan kamu setia? Tolonglah, jawab tanyaku satu saja.

Hari-hariku berlalu dengan lara yang berlubang, sebab dulu ada kamu yang menjadi pemanis dalam berjuang. Iya, perjuanganku dalam mencari tenang, sebab dulu ada senyummu yang membuatku senang. Iya, perjuanganku dalam mencari damai, sebab dulu ada rasamu yang bersemai. Kini, rasaku tetap bersemai, tetap mencari damai, tapi sayang aku tak menemukan.

Semenjak saat itu, langkahku tak pernah sekuat dulu. Berlari membersamai pesisir, menikmati angin yang berhembus dengan semilir. Balekambang, kala itu. Lucu saja rasanya, kamu yang mengatakan "kita akan bersama" tapi kamu juga yang mengatakan "kita sampai di sini saja".

Aku tidak tahu menahu soal rasamu yang sebenarnya, yang kutahu aku mempercayaimu adanya. Aku tak pernah memikirkan buruk atasmu, tapi nyata kembali mengungkap fakta. Jika kamu tidak pernah berniat sungguh atas ucap janjimu.

Lalu, apa yang harus kuperbuat? Menunggumu atau berlari dengan sisa tenaga yang ku punya? Aku sempat menjadi bulan-bulanan kawan-kawanku, yang mengatakan aku terlalu bodoh, sebab aku masih mencintaimu dan berharap kamu menjemputku. "Apa yang salah dari sebuah doa yang terus mengudara hingga pasti akan datang akhirnya?" Sanggahku pada mereka.

Tapi tetap saja aku menjadi wanitamu yang bodoh, dan terlalu percaya. Sebab logikaku selalu menyangkal, sedang hatiku selalu menyakinkan.

Soal pertemuanku denganmu waktu dulu, aku tidak akan pernah menyesali, karena aku juga salah, yang dengan santai membiarkan rasa itu tetap tumbuh dan merekah. Mintamu adalah aku melupakanmu. Itu pasti, aku akan melakukan, tapi perlahan. Aku masih mencoba untuk berdiri, dikala lututku sudah terlanjur kram duduk dan diam tanpa pasti. Aku akan mencari bahagia, meski aku pun belum tahu aku bisa. Tapi aku akan tetap berusaha merangkak dengan tanganku yang gemetar, dan luka di kakiku yang lebam-lebam. Jalanku pincang, sama seperti saat aku mengemis untuk kamu tetap tinggal. Air mataku habis, sama seperti saat kamu meninggalkanku dalam keadaan tangis.

Biarlah aku sendiri yang merasakan sakit, kamu tak usahlah berpikir tentangku. Aku akan merelakanmu dalam genggamannya, meski aku tahu itu sakit rasanya. Biarkan aku dengan penantianku, dengan langkah goyang, yang kamu tahu, aku akan bisa sendiri berjalan. Kamu berbahagialah. Sebab aku tahu, kamu punya pilihan untuk berubah. Aku biarlah, meskipun aku tahu aku mencoba untuk melangkah.

Tak apalah, akan ada waktunya yang mencari dan dicari akan menemukan dan ditemukan. Yang mencoba mempertahankan akan dipertahankan oleh orang yang mengajakmu berjuang. Biarkan aku karam atas takdirku, dan kamu berbahagia atas pilihanmu. Hanya saja yang perlu kamu tahu, kamu adalah indah dalam gulana dan gundah. Aku berbahagia untukmu, atasnya.



@diyah_fi Surabaya, 17 Januari 2019 22.26