Malam ini, mungkin sama seperti kemarin, masih hujan, masih dingin, dan masih sepi. Tapi rasanya ada yang berbeda. Entahlah, rinduku padamu semakin membuncah tak berarah. Entahlah, aku tidak tahu harus membawanya kemana, karena aku tahu, yang kurindukan adalah rasa yang tak wajar.
Hari-hariku tampak kosong, seperti biasanya. Yang ada semakin hari aku semakin terlihat seperti orang pikun, tertawa sendiri jika mengingatmu, menangis sejadi-jadinya jika ingat kamu tidak lagi ada dalam detikku.
Bodoh saja rasanya aku, yang masih bermimpi kamu ada.
Mungkin kamu sudah lupa rasanya, ketika aku memintamu untuk mengantarku pulang, membuntutiku dari belakang, supaya kamu memastikan jika aku pulang dalam keadaan aman. Lucu saja rasanya, hal-hal sederhana itu bisa membuat kita sama-sama tertawa, terlepas dari kepenatan setiap harinya.
Kamu mengajakku menikmati malam dengan secangkir cappucino hangat, yang kamu tahu itu adalah kesukaanku, sedang kamu dengan kopi hitammu, rasanya kita tidak pernah memiliki persamaan tapi bisa saling menyatukan. Sebuah topik tak pernah habis untuk dibahas, berbincang mengenai sebuah kosa kata lucu, yang kutahu, maksudmu hanyalah membawaku supaya aku bisa hanyut dalam suasana yang kau buat. Anehnya, aku yang terkadang tidak pernah mengerti jalan pikiranmu, bisa semudah itu mengangguk dan setuju.
Ah, andai saja malam itu tidak pernah berlalu, mungkin aku dan kamu masih bersatu. Tetap menikmati malam Minggu dengan secangkir kopi di bawah temaram lampu samar-samar. Bahagiaku sesederhana itu. Bersamamu, tertawa, lalu bermimpi indah.
@diyah_fi Surabaya, 19 Januari 2019
Tidak ada komentar:
Posting Komentar