Maaf, tentang kepergian aku tidak pernah mampu untuk menjelaskannya dengan rinci, sebab aku tidak pernah berpikir pergi bisa secepat itu menghampiri.
Tentang ketertinggalan, aku tidak pernah merencanakan, karena aku tidak pernah bermimpi untuk menjalankan.
Jika memang takdir tidak memberi restu, tak apalah aku seperti ini. Menjadi aku yang dahulu, terasing, tak teringat.
Jika kamu selayaknya yang baik, pasti aku yakin jika kamu selalu bisa menjadi bijak dalam berpikir.
Aku selalu mencoba untuk tetap baik, tak buruk sangka, tidak pernah menduga-duga. Meskipun pada akhirnya, akulah yang salah atas keyakinanku sendiri.
Cerita tentangmu hanyalah sebagai warna pada jalanku,
Meskipun terkadang aku tetap rindu.
Yang sudah, biarlah. Aku mencoba untuk merelakan. Aku tidak ingin memaksa apa yang seharusnya harus tanggal, memintanya untuk tinggal, sedang keinginannya ingin hilang.
Jika kamu ingin pergi, silahkan. Aku tidak pernah melarang. Namun jika kamu ingin kembali, maaf. Aku tidak seperti aku yang dulu.
Mungkin aku akan tetap menerimamu sebagai kawan lamaku, yang sempat bergurau pada senja, yang biasa makan bersama, menikmati dinginnya malam pada hitam kopi yang tetap ku suka.
Alam tau kemana langkahku akan tertuju, yang mungkin sekarang sudah tidak tertuju lagi padamu.
Alam tau kemana aku harus melangkah, dia tidak tega aku terus berkeluh kesah.
Alam baik padaku, tetap memberiku kawanan bahagia, yang sempat terhapus oleh luka.
Karena Allah mencintaimu, Dia mematahkan hatimu dengan sangat.
@dyah_fi Surabaya, 18 Maret 2019
Tidak ada komentar:
Posting Komentar