Tampilkan postingan dengan label Tak Berkategori. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tak Berkategori. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Februari 2019

"apa ini yang dinamakan kasih tidak berkisah?"

Aku dan kamu adalah cerita usang. Mimpi yang sudah lewat, nyata yang hanya memberi syarat. Hidupku sudah kujalani sendiri, hidupmu pun juga sama. Anehnya, aku yang sudah terbiasa tanpamu, mendadak hatiku bergetar untuk rasamu yang sudah pudar. Rentetan-rentetan masa lalu, kembali mengiang-ngiang isi kepalaku. "Aku sudah kuat", kataku menyakinkan. "Tapi aku rapuh", begitu kelanjutannya. Senyummu seolah bakteri yang menyebarkan virus yang berhasil menggerogoti kekebalan tubuh, aku yang seolah tangguh, mendadak hancur dan rubuh. Kita pernah semeja, pernah seirama, pernah satu langkah. Tapi itu dulu, sebelum Tuhan memisahkan dan tidak memberi restu.

Aku yakin, pertemuanmu denganku bukankah sebuah kebetulan, hingga segala mimpi pernah kita rumuskan dan untuk kita wujudkan. Tapi alam semesta senang bercanda. Mendekatkan kita yang tidak pernah saling sapa, merekatkan kita yang sudah bersama, lalu memisahkan kita yang tidak menginginkan jarak itu ada. Logikaku bertanya "apa ini yang dinamakan kasih tak berbalas kisah?" .

Kamu adalah ujian yang aku lewati sendiri, sedang aku adalah fiksi yang hampir mampir diragamu untuk engkau miliki. Aku yang pernah menangis sesenggukan di bahumu, kamu yang pernah mencoba kuat untukku, nyatanya rasa kita kalah, kalah pada keadaan yang menginginkan kita pisah. Yogyakarta adalah saksi bisu ku . Kamu yang mengatakan "semoga kita bisa bersama di sana" , sedang nyatanya aku sendiri yang mewujudkan mimpi kita. Curang saja rasanya, kita yang bermimpi, aku yang menjadikannya sendiri.
Apa kamu lupa, jika janji adalah sebuah hutang? Yang harus tetap dibayar meskipun raga sudah tidak bernyawa? Bagiku, kalimatmu adalah sebuah hutang, bagiku pun juga sama. Karena setiap kata yang terlontar haruslah diiringi dengan tindakan yang sepadan. "Kamu kalah pada takdirmu sendiri. Kamu mengalah pada kalimat "terserah", semudah itukah kamu memperjuangkan hidupmu?" Kataku mencoba membantah. Tapi kamu tetap diam saja. Diam, dan pergi pelan-pelan.

Ah, aku tidak tahu, siapa yang menjadi pengecut sebenarnya, aku yang selalu berhalusinasi, atau kamu yang hanya diam tidak perduli??! Begitulah kisahku yang berakhir dengan kalimat kelu, pahit yang kutelan sendiri, sakit yang kurawat sendiri, dan luka yang tetap berlubang lagi .


@dyah_fi Surabaya, 04 Februari 2019

Jumat, 01 Februari 2019

Selamat tinggal, sampai jumpa!

Assalamualaikum Februari
Untukmu Januari, aku tidak ingin mengatakan selamat tinggal kepadamu, sebab tentang kembalimu adalah hal yang paling aku tunggu. Terimakasih atas gurat senyummu yang sampai kini masih menjadi bayang-bayang yang indah, meskipun kamu tidak bisa ku genggam untuk menghilangkan gundah, karena aku pun juga tahu, tentangmu memang harus sudah.

Untukmu Februari, aku harap harimu tidak berlalu dengan cepat, secepat Januari meninggalkanku kini. Aku masih ingin memelukmu, merasakan hangat dekapmu, dan mencium aroma tubuhmu, hingga surga bisa aku nikmati kilaunya.

Aku hanya ingin berharap baik, sebab laluku tak ubahlah hanya huruf konsonan yang harus berakhir dengan kata mati. Februari, kamu adalah pengharapan dari setiap langkah kesendirian. Kakiku tetap akan melaju melewati setiap detik-detik yang aku sendiri tidak bisa menentang dengan berkutik. Begitulah aku, yang hanyut pada ambisi-ambisi tentang mimpi, tentang cerita yang tetap harus terlewati.

Februari, aku mencintaimu!

@diyah_fi Surabaya, 01 Februari 2019 1:45 am

Aku..

Rasanya lucu, hujan seakan tau tentang kenangan yang mencoba datang lalu membenamkan luka lagi. Entahlah, kata-kata tidak pernah habis diisi dengan sendu, tanya, dan pikiran-pikiran kosong. Anehnya lagi, situasi seakan mencari celah untuk tetap meronggah kenangan yang sudah usang, menghijaukan kembali, menyuburkan kembali, lalu terkena panas dan mati. "Ah, tahi" kataku. 

Kuatku hanyalah omong kosong, layaknya tong, terisi air dengan penuh, lalu ditendang percuma. Seperti itulah umpamanya. Betapa bodohnya aku dengan aksara, yang selalu menceritakan dia yang sudah hilang, namun bayangan tetap berdatangan. 

"Hai" kataku menyapanya. Sedikit tapi membekas pada nadi yang rumit. 
"sedang apa?" Kataku, sebuah ejaan yang menandakan jika aku rindu. 
"Masih sama?" Tanyaku menginginkan pasti. 
"Lalu apa?" Kataku dalam hati. 

Entahlah, aku masih selalu menyoal tentangmu yang hilang. Kamu yang bahagia dengannya, aku yang mencoba merawat luka. Aku hanya berusaha baik, berusaha melawan sakit dengan cerdik! Kamu tidak perlu tahu aku, yang ku ingin, kamu tetap berjalan dengan tujuanmu

@diyah_fi Surabaya, 31 Januari 2019 17:46

Sabtu, 26 Januari 2019

Yang kutahu aku kuat

Aku tidak tahu bagaimana kamu sekarang, yang kutahu kamu berada dalam genggamannya dan bahagia. Itu kabar terakhir yang kutemui pada dirimu. Semenjak saat itu, aku mulai belajar menjauh, aku yang kamu lupakan dengan angkuh. Aku mulai merangkak lagi, sedang yang ku jalani, aku sudah bisa mulai meniti. 

Tampaknya kamu baik-baik saja, mungkin jauh lebih bahagia daripada saatmu bersama ku, dengan cinta yang kamu punya kini. Sedang aku pun belajar untuk baik-baik saja, melepasmu yang aku usahakan untuk tidak menyakiti diriku sendiri. 

Kupikir, tatapmu masih sama, masih ada luka yang ku buat untukmu. Tapi bahagia mu lebih nampak daripada apa yang aku lakukan. Begitulah tuhan membalasmu. Entahlah, aku masih saja belum bisa bergerak lagi, apa karena aku terlalu tulus untuk mencintai? Atau karena aku belum punya pengganti yang selayaknya kamu? Entahlah, aku tidak tahu.

Hari-hariku tak pernah terasa berat seperti biasanya, mulai biasa, terbiasa, hingga benar-benar lupa. Tapi Tuhan berkata lain lagi, mempertemukanku denganmu dan dengan mudahnya lupaku benar-benar lupa. Lupa jika aku pernah berusaha kuat untuk melupa, lupa jika aku pernah mendekapmu, lupa dengan suara dan tatap matamu.

Ah, Tuhan memang suka bercanda, mempermainkan hati yang sudah terlanjur pulih kembali, atau mungkin Tuhan hanya memberiku persoalan lagi yang Dia harap aku mampu untuk menanggapi? Alam raya, bergerak begitu saja. Runtuh, lalu hancur lagi.

Sudahlah, tidak perlu aku menyesali, yang sudah, biarlah sudah. Yang hilang, biarlah menjadi kenang. Nyata memang akan lebih baik daripada euforia sesaat, meskipun pada nyatanya "nyata" tidak selalu memihak kita.

Aku pikir aku kuat, kuat untuk berdiri sendiri, jatuh, rapuh, merangkak, lalu berdiri lagi. Langkahku masih saja memaksaku untuk berjalan, yang kutahu hidupku memang masih panjang. Cita-cita ku melambai, mengajakku untuk segera menggenggamnya. Ah, rasanya otakku mulai panas, bercampurnya argumen dengan hati yang tidak pernah mengalami kesepakatan. Sampai kapan aku seperti ini? Terbunuh pelan-pelan oleh mimpi yang belum bisa ku wujudkan. Ah, tunggu saja aku di persimpangan, kan ku jemput dirimu, dengan senyum dan genggam erat tangan. Aku mencintaimu.

@diyah_fi Surabaya, 26 Januari 2019

Apa yang salah?

Tuhan, apa yang salah dariku yang berharap dia berada dalam genggaman sedang takdirMu belum mengijinkan?

Aku yang buruk untuk dia yang sempurna, atau dia yang terlalu tinggi untukku? Hingga Engkau bena-benar tidak rela aku bersama dia. Tuhan, tolong jawab tanyaku sedikit saja, supaya gundahku ada balasnya.

Berhari-hari hingga bulan berganti , rasaku menyangkal atas pergimu. Dulu, kisahku terlalu indah hingga aku benar-benar lupa, jika yang indah akan pergi, yang buruk akan terganti, dan yang hilang hanya akan menjadi kenang.

Apalah hanya seperti itu ceritaku, Tuhan? Aku mempercayaiMu tanpa mengubah rasa percaya ku, yang aku tahu, Engkau adalah yang baik dari yang terbaik. Aku meminta dia kepadaMu, sedang Engkau tak memberi restu.

Tuhan, maafkan hambaMu yang kacau saat aku melihat hambaMu yang sedang jauh. Memeluk pilihannya, sedang aku yang memilihnya tidak bisa menggenggamnya lama-lama. Engkau selalu tahu doaku kan? Engkau selalu tau siapa nama yang ku sebut dalam tengadahku, dan dalam sujud ku. Hingga aku benar-benar lupa, jika aku terlalu berbelas untuk "engkau untuk Engkau mengabulkannya. Entahlah Tuhan, aku tidak terlalu pandai berkata "aku mencintaimu", karena aku tahu, kamu tidak memberi dia rasa .

Tuhan, biarkanlah aku karam atas ceritaMu, yang enggkau tulis, biarkan aku menjalaninya dengan tulus.

Senin, 21 Januari 2019

Jogja kala itu

Jogja, 28 Januari 2017

Tentang cerita, selalu ada kisah disetiap kalimat kasih. Dulu, pernah ada kata "bersama" sebelum akhirnya "berpisah" menjadi "solusinya". Takdir tidak pernah bercerita dia akan menjalani akhir. Takdir tidak pernah bisa ditebak, sedang pemikiran selalu berarak-arak.

Januari,tahun lalu, pemikiranku selalu berakhir dengan kalimat "aku akan berusaha, mengusahakanmu sebelum Tuhan berbicara mengenai perpisahan" . Aku tidak pernah menginginkan setiap kata "pisah" . Tapi, apa dayaku yang tidak bisa menang dari garis Tuhan kala itu. Januari memang tidak pernah ada akhirnya untuk sebuah cerita. Tentangku dengan dirinya yang kini telah menjadi masa lalu. Menghabiskan malam pada temaram kilau lampu Malioboro, tempat dimana aku dan dirinya menghabiskan Januari bersama, aku yang berusia 20 tahun, sedang dirinya lebih tua 2 tahun dariku.

Pemikiran-pemikiran yang berbeda, menjadikan aku dan dirinya bersama, 2 tahun lamanya. Sebelum akhirnya aku berpisah karena Tuhan mengujiku dengan hati yang "katanya" lebih baik. Aneh saja rasanya, aku yang selalu berusaha untuk membangun cinta, seketika itu rubuh kokoh bangunannya. Anehnya, aku yang jarang terlihat nyaman dengan orang lain selain dirinya, tiba-tiba saja lebih mudah menyandang kata sayang. Entahlah, setan mana yang mempengaruhiku kala itu, hingga aku melepaskan dirinya yang dengan tulus berkorban untukku.

Bodohnya aku yang membiarkan rasa itu semakin tumbuh, hingga membuat benalu-benalu itu semakin menggerogoti rasa yang sudah terlanjur terombang-ambing. Bodohnya aku kini, kalah oleh takdir, kalah oleh rayu bahagia yang fana, sedang dia yang ku pilih, akhirnya hanya singgah sementara. Ah, sudahlah, aku tidak perlu menyesali, sebab itu pilihan yang sudah ku pilih dan harus ku jalani. Biarkanlah, aku karam atas takdir yang ku pilih sendiri, dengan luka memar-memar yang ku sembuhkan sendiri. Terimakasih Tuhan, Engkau menyayangiku dengan memberi sakit.

"Karena Tuhan mencintaimu, Dia mematahkan hatimu dengan sangat"

@diyah_fi Nganjuk, 21 Januari 2019

Minggu, 20 Januari 2019

Merindumu, aku tetap sama

Malam ini, mungkin sama seperti kemarin, masih hujan, masih dingin, dan masih sepi. Tapi rasanya ada yang berbeda. Entahlah, rinduku padamu semakin membuncah tak berarah. Entahlah, aku tidak tahu harus membawanya kemana, karena aku tahu, yang kurindukan adalah rasa yang tak wajar. 

Hari-hariku tampak kosong, seperti biasanya. Yang ada semakin hari aku semakin terlihat seperti orang pikun, tertawa sendiri jika mengingatmu, menangis sejadi-jadinya jika ingat kamu tidak lagi ada dalam detikku. 

Bodoh saja rasanya aku, yang masih bermimpi kamu ada. 

Mungkin kamu sudah lupa rasanya, ketika aku memintamu untuk mengantarku pulang, membuntutiku dari belakang, supaya kamu memastikan jika aku pulang dalam keadaan aman. Lucu saja rasanya, hal-hal sederhana itu bisa membuat kita sama-sama tertawa, terlepas dari kepenatan setiap harinya. 

Kamu mengajakku menikmati malam dengan secangkir cappucino hangat, yang kamu tahu itu adalah kesukaanku, sedang kamu dengan kopi hitammu, rasanya kita tidak pernah memiliki persamaan tapi bisa saling menyatukan. Sebuah topik tak pernah habis untuk dibahas, berbincang mengenai sebuah kosa kata lucu, yang kutahu, maksudmu hanyalah membawaku supaya aku bisa hanyut dalam suasana yang kau buat. Anehnya, aku yang terkadang tidak pernah mengerti jalan pikiranmu, bisa semudah itu mengangguk dan setuju. 

Ah, andai saja malam itu tidak pernah berlalu, mungkin aku dan kamu masih bersatu. Tetap menikmati malam Minggu dengan secangkir kopi di bawah temaram lampu samar-samar. Bahagiaku sesederhana itu. Bersamamu, tertawa, lalu bermimpi indah.



@diyah_fi Surabaya, 19 Januari 2019

Jumat, 18 Januari 2019

Sedihku, bahagiamu


Yang kutahu, indah adalah sebuah kamuflase dari kata "resah", yang berharap untuk datang, tapi dalam kenyataannya malah hilang. Pernah memperjuangkan, tapi perjuangan itu tidak berbalas dengan sepadan. Senja yang indah, hanyalah sebuah perumpamaan dari kalimat "datang lalu pergi pelan-pelan" .


Kamu manis, tapi sayang, ucap dengan pengorbanan tak layak untuk disebut persamaan. Jika memang kamu tidak bisa sesungguhnya, tolong, jangan singgah lalu pergi begitu saja. Hatiku tak kuasa menahan tanya yang memaksa untuk ada jawabnya. Ragaku tak bisa selalu menyanggah jika kamu tidak pernah ada hadirnya. 

Senyummu yang dulu hangat, sekarang entah kemana.. mungkin tertelan bumi yang sudah bosan dan haus kasih sayang. Seperti itulah perumpamaanmu, aku yang mencoba untuk tetap tangguh, malah kamu hancurkan dengan menyeluruh. Aku yang mencoba untuk kuat, malah kamu paksakan untuk menjadi sekarat.


Mungkin itu yang disebut berjuang, namun tak mendapat balasan yang sepadan... Atau, mungkin kamu yang terlalu sadis untukku yang mencoba selalu menelan kata manis. Aku bahagia kamu bahagia, namun sayangnya, sedihku adalah hal yang membuatmu bahagia adanya.





@diyah_fi Surabaya, 18 Januari 2019

Tentangmu yang ingin pergi

Hujan malam ini

Selamat malam hati yang resah menunggu pasti, kabarmu adalah hal baik yang selalu kunanti, meski kutahu itu adalah hal yang tidak mungkin untuk terjadi. Malam ini aku bertemankan dengan sang kopi. Rasanya masih sama, manis dan sepah dalam ampasnya. Tapi dia adalah rasa yang sempurna, nikmatnya dalam menunggumu tak pernah terasa sakit sebelumnya. Kopi dan buku "Garis Waktu" menjadi penghangat malamku kini, meski dulu kutahu ada notif darimu setiap hari.

Lambat laun kamu hilang nyatanya. Pergi dengan meninggalkan tanda tanya. Lalu apa yang kamu mau? Aku yang pergi, atau kamu yang ingin berlari? Siapa yang salah sebenarnya? Aku yang masih memperjuangkan untuk menggenggam atau keinginanmu untuk hilang? Apa yang sedang kamu cari? Di luar sana, aku tahu ada yang banyak lebih menggoda, dia yang parasnya rupawan, dirinya yang berkawankan uang, atau dia yang berbeda yang menjanjikan kamu setia? Tolonglah, jawab tanyaku satu saja.

Hari-hariku berlalu dengan lara yang berlubang, sebab dulu ada kamu yang menjadi pemanis dalam berjuang. Iya, perjuanganku dalam mencari tenang, sebab dulu ada senyummu yang membuatku senang. Iya, perjuanganku dalam mencari damai, sebab dulu ada rasamu yang bersemai. Kini, rasaku tetap bersemai, tetap mencari damai, tapi sayang aku tak menemukan.

Semenjak saat itu, langkahku tak pernah sekuat dulu. Berlari membersamai pesisir, menikmati angin yang berhembus dengan semilir. Balekambang, kala itu. Lucu saja rasanya, kamu yang mengatakan "kita akan bersama" tapi kamu juga yang mengatakan "kita sampai di sini saja".

Aku tidak tahu menahu soal rasamu yang sebenarnya, yang kutahu aku mempercayaimu adanya. Aku tak pernah memikirkan buruk atasmu, tapi nyata kembali mengungkap fakta. Jika kamu tidak pernah berniat sungguh atas ucap janjimu.

Lalu, apa yang harus kuperbuat? Menunggumu atau berlari dengan sisa tenaga yang ku punya? Aku sempat menjadi bulan-bulanan kawan-kawanku, yang mengatakan aku terlalu bodoh, sebab aku masih mencintaimu dan berharap kamu menjemputku. "Apa yang salah dari sebuah doa yang terus mengudara hingga pasti akan datang akhirnya?" Sanggahku pada mereka.

Tapi tetap saja aku menjadi wanitamu yang bodoh, dan terlalu percaya. Sebab logikaku selalu menyangkal, sedang hatiku selalu menyakinkan.

Soal pertemuanku denganmu waktu dulu, aku tidak akan pernah menyesali, karena aku juga salah, yang dengan santai membiarkan rasa itu tetap tumbuh dan merekah. Mintamu adalah aku melupakanmu. Itu pasti, aku akan melakukan, tapi perlahan. Aku masih mencoba untuk berdiri, dikala lututku sudah terlanjur kram duduk dan diam tanpa pasti. Aku akan mencari bahagia, meski aku pun belum tahu aku bisa. Tapi aku akan tetap berusaha merangkak dengan tanganku yang gemetar, dan luka di kakiku yang lebam-lebam. Jalanku pincang, sama seperti saat aku mengemis untuk kamu tetap tinggal. Air mataku habis, sama seperti saat kamu meninggalkanku dalam keadaan tangis.

Biarlah aku sendiri yang merasakan sakit, kamu tak usahlah berpikir tentangku. Aku akan merelakanmu dalam genggamannya, meski aku tahu itu sakit rasanya. Biarkan aku dengan penantianku, dengan langkah goyang, yang kamu tahu, aku akan bisa sendiri berjalan. Kamu berbahagialah. Sebab aku tahu, kamu punya pilihan untuk berubah. Aku biarlah, meskipun aku tahu aku mencoba untuk melangkah.

Tak apalah, akan ada waktunya yang mencari dan dicari akan menemukan dan ditemukan. Yang mencoba mempertahankan akan dipertahankan oleh orang yang mengajakmu berjuang. Biarkan aku karam atas takdirku, dan kamu berbahagia atas pilihanmu. Hanya saja yang perlu kamu tahu, kamu adalah indah dalam gulana dan gundah. Aku berbahagia untukmu, atasnya.



@diyah_fi Surabaya, 17 Januari 2019 22.26