Ada sedikit cerita yang ingin kubagi, denganmu. Mengenai perjalanan singkat yang meninggalkan sedikit goresan luka.
Ya, rasanya kamu terlalu buru-buru untuk meninggalkan semua kisah yang baru saja kumulai. Aku tidak tahu kenapa kau berlalu secepat itu, tak secepat April, lalu.
Dia pergi. Resign dari pekerjaan karena tak dapat melanjutkan kontrak kerjanya. Tak tahu juga, apa yang akan dibuat setelahnya. Katanya, "jangan kemana-mana, nanti kalau ada waktu luang aku akan kembali. Jangan nakal, jaga hati". Entah, aku tak tahu, itu tulus atau tidak, tapi yang jelas aku mengiyakan. Dia milik orang, aku mencintainya. Aku salah, sudah pasti. Salah sebab membiarkan rasa itu terus besar, dan aku tidak bisa menghentikannya. Ingin jauh saja.
Keinginanku, ketika dia sudah pergi, akupun juga ikut pergi. Tapi, rasanya komitmen yang telah dibangun mengatakan "jangan".
Ah, Mei. Kenapa kamu begitu rumit perihal aku yang baru saja memulai membuka hati. Sekalinya membuka, bersama dia yang salah.
Bodoh ya, aku!
Tapi, perlahan. Aku ingin melepaskan.
Aku tau, akhir dari kisahku tak akan pernah berhasil baik.
Pun aku juga pernah mengatakan jika aku hanya akan menjadi persinggahannya sementara.
Sebab aku percaya, level tertinggi dalam mencintai, adalah membiarkan dia memilih jalannya untuk bahagia.
Tak apa, biar aku melangkah lagi. Sendiri.
Dengan segala rasa yang pernah ada, dan penantian yang tak kunjung reda.
Aku mencintaimu, selalu.
Doaku, aku tetap membersamaimu.
Tapi, jika takdir Tuhan tak berpihak pada tujuan kita, tak apa. Semoga kita tetap menjadi insan yang baik, ya. Yang pernah saling membahagiakan, meskipun dengan cara yang salah.
Aku, mencintaimu.
Tertanda,
@dyah_fi Surabaya, 31 Mei 2020