Aku tak pernah menyesali segala pertemuan yang sudah direncanakan Tuhan. Menghadirkan sosokmu yang baik, dan menyenangkan.
Kamu mengajariku banyak hal. Tentang cinta, tentang arti menghargai, sikap dewasa, dan semua itu membuatku menjadi pemikir yang lebih.
Aku harus rela menjadi sabar, memahami apapun yang tidak semudah aku bisa memahami. Menjadi seorang wanita yang mampu bijaksana dalam segala cara.
Lalu,
Aku, jatuh lagi. Harapan yang kubangun, kamu patahkan. Mimpi yang kuudarakan, kamu tenggelamkan. Kamu memilih pergi dengan segenap kekuatanmu yang kutahu, itu adalah rapuhku.
Kamu baik-baik saja saat aku memilih untuk lelah dan berhenti untuk tidak mengikutimu. Sedangkan aku, aku harus berjalan sendiri dengan gontai atas keputusan yang kurasa benar.
Kamu tidak bisa diperjuangkan. Kamu tidak bisa diajak sejalan.
Pertemuan kita hanyalah ketidak sengajaan. Aku tak pernah memintamu sebelumnya, dan kamu tak pernah memintaku setelahnya.
Setelah kita bersama,
Aku pernah memintamu secara diam-diam kepada Tuhan pada sujud terakhirku di sepertiga malam. Memintamu dengan belas kasihan Tuhan, yang kuharap Tuhan lekas berbaik hati mengabulkan yang kupinta.
Lalu, Tuhan memberi jawaban. Dia menjauhkanmu di saat aku tengah memilihmu sebagai tempat terakhir yang paling nyaman.
Sebenarnya, aku tidak rela. Aku tak pernah sedikitpun menyebut nama laki-laki untuk temanku, nanti. Sedangkan doaku dahulu-dahulu hanya meminta yang baik saja.
Aku baru sadar, aku salah besar. Nyatanya, pengharapanku atas namamu terlalu besar hingga melupakan doaku yang sebelumnya.
Tuhan yang berbaik hati.
Menunjukkan kebaikan pada mataku yang telah buta. Mengajariku untuk ikhlas dalam berbuat, dan aku menjadi lebih tangguh, sekarang.
Tuhan Maha Baik, pikirku. Dia memberi jawaban pada doaku yang berbelas kasih. Tuhan tak ingin sayapku patah, Tuhan menyelamatkanku dari kesakitan. Kita tak ditakdirkan menjadi satu. Tuhan menjadikan kita berdua, sendiri-sendiri. Melangkah dengan segenap kekuatan dan mimpi masing-masing.
Tak apa, aku bersyukur sebab masih banyak doa-doa yang lain, yang masih kurencanakan dan Tuhan sudah punya kenyataan.
Terimakasih banyak.
Meskipun aku dan kamu banyak menulis dosa daripada bercatatkan pahala.
Untukmu, semoga kamu baik-baik saja.
Tersenyumlah.
Berbahagialah.
Tertanda,
@dyah_fi
Surabaya, 18 Juli 2020