Sabtu, 18 Juli 2020

Tak apa, Tuhan menyelamatkanku dari kesakitan.

Aku tak pernah menyesali segala pertemuan yang sudah direncanakan Tuhan. Menghadirkan sosokmu yang baik, dan menyenangkan.

Kamu mengajariku banyak hal. Tentang cinta, tentang arti menghargai, sikap dewasa, dan semua itu membuatku menjadi pemikir yang lebih.

Aku harus rela menjadi sabar, memahami apapun yang tidak semudah aku bisa memahami. Menjadi seorang wanita yang mampu bijaksana dalam segala cara.

Lalu, 

Aku, jatuh lagi. Harapan yang kubangun, kamu patahkan. Mimpi yang kuudarakan, kamu tenggelamkan. Kamu memilih pergi dengan segenap kekuatanmu yang kutahu, itu adalah rapuhku.

Kamu baik-baik saja saat aku memilih untuk lelah dan berhenti untuk tidak mengikutimu. Sedangkan aku, aku harus berjalan sendiri dengan gontai  atas keputusan yang kurasa benar. 

Kamu tidak bisa diperjuangkan. Kamu tidak bisa diajak sejalan.

Pertemuan kita hanyalah ketidak sengajaan. Aku tak pernah memintamu sebelumnya, dan kamu tak pernah memintaku setelahnya. 


Setelah kita bersama,

Aku pernah memintamu secara diam-diam kepada Tuhan pada sujud terakhirku di sepertiga malam. Memintamu dengan belas kasihan Tuhan, yang kuharap Tuhan lekas berbaik hati mengabulkan yang kupinta. 

Lalu, Tuhan memberi jawaban. Dia menjauhkanmu di saat aku tengah memilihmu sebagai tempat terakhir yang paling nyaman. 

Sebenarnya, aku tidak rela. Aku tak pernah sedikitpun menyebut nama laki-laki untuk temanku, nanti. Sedangkan doaku dahulu-dahulu hanya meminta yang baik saja. 

Aku baru sadar, aku salah besar. Nyatanya, pengharapanku atas namamu terlalu besar hingga melupakan doaku yang sebelumnya.

Tuhan yang berbaik hati.

Menunjukkan kebaikan pada mataku yang telah buta. Mengajariku untuk ikhlas dalam berbuat, dan aku menjadi lebih tangguh, sekarang.

 Tuhan Maha Baik, pikirku. Dia memberi jawaban pada doaku yang berbelas kasih. Tuhan tak ingin sayapku patah, Tuhan menyelamatkanku dari kesakitan. Kita tak ditakdirkan menjadi satu. Tuhan menjadikan kita berdua, sendiri-sendiri. Melangkah dengan segenap kekuatan dan mimpi masing-masing. 

Tak apa, aku bersyukur sebab masih banyak doa-doa yang lain, yang masih kurencanakan dan Tuhan sudah punya kenyataan. 

Terimakasih banyak. 

Meskipun aku dan kamu banyak menulis dosa daripada bercatatkan pahala. 

Untukmu, semoga kamu baik-baik saja. 

Tersenyumlah. 

Berbahagialah.


Tertanda,

@dyah_fi 

Surabaya, 18 Juli 2020

Jumat, 10 Juli 2020

hai, Juli

Hai Juli, selamat pagi. Maaf, baru sempat menyapamu, sekarang. Maaf ya, aku lemah sekarang. Ternyata yang kuharapkan tak berbalas dengan sepadan. Entah, kenapa engkau berakhir seperti Juli ku, 2018 lalu. Berakhir dengan tragis, dan tangis. 
Aku tidak tahu bagaimana cara untuk memperbaikimu. Kau adalah sebagian dari rencana besarku. 
Rencana pada bulan-bulan sebelumnya. Dia pergi, dengan harapan yang ia lukiskan sendiri. Dan dia, mengingkari apapun yang telah disepakati. Aku tidak tahu, bagaimana lagi harus berusaha baik-baik saja.
Nyatanya, aku lemah sekarang.
Aku tidak tahu kenapa Juli selalu mengecewakan.
2018 lalu, aku tunangan dan gagal. Dan sekarang aku berjuang, tapi perjuanganku tak berakhir dengan kebaikan. 
Imam, namanya. Seseorang yang ada pada doaku, tapi dia pergi meninggalkanku. Semua yang terucap hanya omong kosong..
Tuhan, jika memang bukan untukku, jauhkan dia sejauh-jauhnya. Jangan pernah bertemu lagi dengannya. Aku tak ingin merasakan sakit, lagi. Beri ganti aku, dia yang mencintaimu. Dia yang namanya sudah Kau tulis pada buku takdirku. Aku akan menerimanya dengan lapang dada. Sembuhkan aku, Tuhan. Dari kesakitan yang berkepanjangan. Ampuni aku!



@dyah_fi Surabaya, 10 Juli 2020