Jumat, 18 Januari 2019

Tentangmu yang ingin pergi

Hujan malam ini

Selamat malam hati yang resah menunggu pasti, kabarmu adalah hal baik yang selalu kunanti, meski kutahu itu adalah hal yang tidak mungkin untuk terjadi. Malam ini aku bertemankan dengan sang kopi. Rasanya masih sama, manis dan sepah dalam ampasnya. Tapi dia adalah rasa yang sempurna, nikmatnya dalam menunggumu tak pernah terasa sakit sebelumnya. Kopi dan buku "Garis Waktu" menjadi penghangat malamku kini, meski dulu kutahu ada notif darimu setiap hari.

Lambat laun kamu hilang nyatanya. Pergi dengan meninggalkan tanda tanya. Lalu apa yang kamu mau? Aku yang pergi, atau kamu yang ingin berlari? Siapa yang salah sebenarnya? Aku yang masih memperjuangkan untuk menggenggam atau keinginanmu untuk hilang? Apa yang sedang kamu cari? Di luar sana, aku tahu ada yang banyak lebih menggoda, dia yang parasnya rupawan, dirinya yang berkawankan uang, atau dia yang berbeda yang menjanjikan kamu setia? Tolonglah, jawab tanyaku satu saja.

Hari-hariku berlalu dengan lara yang berlubang, sebab dulu ada kamu yang menjadi pemanis dalam berjuang. Iya, perjuanganku dalam mencari tenang, sebab dulu ada senyummu yang membuatku senang. Iya, perjuanganku dalam mencari damai, sebab dulu ada rasamu yang bersemai. Kini, rasaku tetap bersemai, tetap mencari damai, tapi sayang aku tak menemukan.

Semenjak saat itu, langkahku tak pernah sekuat dulu. Berlari membersamai pesisir, menikmati angin yang berhembus dengan semilir. Balekambang, kala itu. Lucu saja rasanya, kamu yang mengatakan "kita akan bersama" tapi kamu juga yang mengatakan "kita sampai di sini saja".

Aku tidak tahu menahu soal rasamu yang sebenarnya, yang kutahu aku mempercayaimu adanya. Aku tak pernah memikirkan buruk atasmu, tapi nyata kembali mengungkap fakta. Jika kamu tidak pernah berniat sungguh atas ucap janjimu.

Lalu, apa yang harus kuperbuat? Menunggumu atau berlari dengan sisa tenaga yang ku punya? Aku sempat menjadi bulan-bulanan kawan-kawanku, yang mengatakan aku terlalu bodoh, sebab aku masih mencintaimu dan berharap kamu menjemputku. "Apa yang salah dari sebuah doa yang terus mengudara hingga pasti akan datang akhirnya?" Sanggahku pada mereka.

Tapi tetap saja aku menjadi wanitamu yang bodoh, dan terlalu percaya. Sebab logikaku selalu menyangkal, sedang hatiku selalu menyakinkan.

Soal pertemuanku denganmu waktu dulu, aku tidak akan pernah menyesali, karena aku juga salah, yang dengan santai membiarkan rasa itu tetap tumbuh dan merekah. Mintamu adalah aku melupakanmu. Itu pasti, aku akan melakukan, tapi perlahan. Aku masih mencoba untuk berdiri, dikala lututku sudah terlanjur kram duduk dan diam tanpa pasti. Aku akan mencari bahagia, meski aku pun belum tahu aku bisa. Tapi aku akan tetap berusaha merangkak dengan tanganku yang gemetar, dan luka di kakiku yang lebam-lebam. Jalanku pincang, sama seperti saat aku mengemis untuk kamu tetap tinggal. Air mataku habis, sama seperti saat kamu meninggalkanku dalam keadaan tangis.

Biarlah aku sendiri yang merasakan sakit, kamu tak usahlah berpikir tentangku. Aku akan merelakanmu dalam genggamannya, meski aku tahu itu sakit rasanya. Biarkan aku dengan penantianku, dengan langkah goyang, yang kamu tahu, aku akan bisa sendiri berjalan. Kamu berbahagialah. Sebab aku tahu, kamu punya pilihan untuk berubah. Aku biarlah, meskipun aku tahu aku mencoba untuk melangkah.

Tak apalah, akan ada waktunya yang mencari dan dicari akan menemukan dan ditemukan. Yang mencoba mempertahankan akan dipertahankan oleh orang yang mengajakmu berjuang. Biarkan aku karam atas takdirku, dan kamu berbahagia atas pilihanmu. Hanya saja yang perlu kamu tahu, kamu adalah indah dalam gulana dan gundah. Aku berbahagia untukmu, atasnya.



@diyah_fi Surabaya, 17 Januari 2019 22.26

Tidak ada komentar:

Posting Komentar