Sabtu, 23 Maret 2019

Kini aku

Dulu, di tengah tatanan lampu kota itu aku sering menghabiskan malamku dengan ditemani secangkir cappucino, dan aku melepaskan lelahku. Selepas kerja, atau saat sedang suntuk-suntuknya.

Aku tidak tahu lagi, apakah dengan seperti itu laraku terkurangi tapi yang jelas sakitku sedikit terobati.

Dulu, seringnya aku bersamamu. Tapi bagiku kini, sendiri atau bersama rasanya sama saja.

Sekarang tempat itu sudah benar-benar asing, sudah usang, dan rasanya enggan untuk mengulang. Tapi bagaimanapun di tempat itu, aku merasa nyaman.

Semenjak kamu tiada, aku berganti nama menghabiskan sebuah cerita. Masih dengan tempat yang sama, tempat duduk yang sama, kopi yang sama, rasa yang sama, waktu yang sama, tapi aku menikmatinya dengan rasa yang berbeda.

Entahlah, apa yang membuat kopi itu terasa hambar. Padahal yang ku pesan adalah cappucino seperti biasanya. Mungkin rasanya menjadi aneh ketika aku menghabiskan bersama orang yang berbeda.

Aku tidak tahu lagi, kapan lagi aku siap untuk kembali ke tempat itu. Tempat dengan sejuta kenangan, tawa, air mata, cita-cita yang pernah ku katakan sebelumnya, hingga kamu mengiyakan, dan aku mewujudkannya sendiri.

Bodohnya lagi, kenapa aku hanya memintamu untuk mendukungku? Harusnya aku memintamu untuk tetap tinggal.

Salahnya aku, berlari sendiri pada tujuanku, yang melepaskan genggaman tangan itu.

Ah, bodoh.

Dan kini, aku tetap berdiri, tetap berlari sendiri. Sedang kamu telah pada pencarianmu.

Maaf, dulu aku tak sempat mengajakmu berlari, hingga kamu tertinggal, dan kini aku sendiri.

@dyah_fi Surabaya, 23 Maret 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar