Selasa, 16 Juli 2019

Sedang aku, ikhlas!

29 Juni 2018, tepat dimana aku merasa canggung bertemu dengan orang baru yang sering kau sebut sebagai ibu. Beliau begitu ramah untukku yang baru saja memulai kata "selamat malam, maaf merepotkan" . Lalu beliau menjawab "minum teh dulu biar hangat, sebab angin terlampau kencang bersemangat".  Kau dan ibumu tampak begitu dekat, sedangkan aku masih merasa canggung untuk menjawab. Batinku berkata "ah, untung saja tidak ditanya apa-apa" . Mungkin beliau yang kau sebut ibu sudah tidak asing lagi mendengar namaku. Beliau yang sempat menjadi tempat peraduan kisah mu denganku. Dan hingga beliau ingin tahu dan kamu menunjukkan salah satu fotoku. Katanya "manis, giginya tidak rapi seperti Adikmu"  . Bahagianya aku kala itu, sempat dekat dan bercumbu dengan adikmu, adik yang sifatnya hampir sama denganku. Berambut ikal, manja padamu. Aku mencintai dia, yang baru saja aku tatap. Dia yang dengan polosnya melihatku siapa, yang duduk bersebelahan denganmu pada pertama kalinya. Adel, begitu kau memanggilnya. Aku tidak tahu, rasanya malam itu terlampau cepat berlalu. Pukul 10 malam, aku membangunkanmu mengajak pulang. Kamu yang setengah mengantuk, memaksa untuk membuka mata dan mengangguk. Tanda mengiyakan ajakanku untuk pulang. Aku tahu, saat itu kamu sedang letihnya  karena perjalanan. Dan kau dengan sabar "iya, kita pulang sekarang".  Dan kau menciumku lalu bergegas berdiri untuk berpamitan.  Ibumu menahanku untuk tetap tinggal. Mungkin beliau kasihan melihatmu kelelahan seharian. Dan aku tetap pada pendirianku untuk kembali.
Pada tengah perjalanan, kita saling menangis, memeluk keadaan. Kau menggenggam tanganku erat, dan aku memelukmu dengan hangat. Jaket merah yang kau pinjamkan karena aku menggigil kedinginan, basah kuyup dengan air mata kepedihan. Ya, kita berpisah, kalah oleh keadaan. Bahagiaku datang secepat itu, dan pergi semudah itu. Aku mencintaimu, tulus. Dan kau pun sama. Sedang keadaan terlampau berbeda.

Kini, kita telah melupa. Menjadi sepasang dua orang asing yang tidak mengenal, satu sama lain. Semoga kau bahagia bersama dia, seterusnya.

@dyah_fi Surabaya, 16 Juli 2019

Selasa, 14 Mei 2019

Kau tahu

Kau tahu apa yang lebih menyakitkan daripada kesepian?

Senja sore kala itu. Jingga, merekah, mewah. Begitulah kira-kira. Dan aku tetap duduk sendiri pada bangku kosong yang setiap hari hampir kududuki. Bosan, tidak ada sedikitpun rasa itu..

Aku suka tempat itu. Tempat dimana sajak dan puisiku tetap terdengar nyaring oleh untaian kata yang tidak pernah mendapat balas.

Mengirim pesan tak ada jawaban. Menunggu kepastian tak kunjung datang.

Aku tidak tahu siapa yang bodoh dalam hal ini. Rupanya, kita sama-sama bodoh. Aku bodoh tetap mendambamu, kamu bodoh karena telah buta pada yang pasti.

Aku tetap tidak tahu rahasia apa yang pernah kamu bicarakan sebelumya, hingga aku tetap tidak pernah tahu pada apa yang membuatmu pergi, kala itu.

Kamu tahu, setiap sakit  aku hanya ingin sembuh. Setiap kumat aku hanya ingin terawat. Setiap rindu aku ingin kamu yang menjadi obat.

Kamu tahu apa yang lebih sakit daripada kesepian?? Yang lebih sakit daripada kesepian adalah berbincang dengan diri sendiri, menyakini sepenuh hati, jika kamu tetap tinggal dan tidak pergi sedangkan kenyataannya kamu hilang dan tidak kunjung kembali.

@dyah_fi Surabaya, 14 Mei 2019

Minggu, 07 April 2019

Ikatanku.


Selamat pagi, Ahad 07 April 2019

Hai, bagaimana kabarmu kawan? Entahlah, aku merindukanmu secara tidak sengaja.  Aku rindu masa dimana aku masih sanggup untuk memelukmu enam tahun lamanya.

Ya, aku menyebutmu dengan istilah "PENA". Hai ikatanku, sebenarnya aku masih ingin untuk tetap memelukmu, masih ingin bersamamu, masih ingin berjuang denganmu.

Aku tidak tahu seberapa besar aku mencintaimu dalam diam. Sebab mungkin tanpamu, aku bukan apa-apa.

Aku merasakan banyak yang berubah setelahku disini. Aku merindukan "aku" yang dulu. Iya, saat aku masih menjadi aku yang polos, lugu, santun, dan banyak hal baik lainya.

Hai ipm, aku mencintaimu tanpa syarat dan tidak akan pernah sudah.

@dyah_fi Surabaya, 07 April 2019

Sabtu, 30 Maret 2019

Kala

Malang, 30 Maret 2019

Aku tidak tahu untuk apa aku kembali di kota ini lagi, yang ku tahu tempat ini menyimpan banyak cerita yang pernah aku lewati. Dingin, manis, keramahan. Kidal, kala itu .

Aku terlalu suka tempat ini, hingga aku tidak pernah punya salah untuk tidak kembali. Rasanya terlalu rumit jika aku menjelaskannya secara rinci, tapi begitulah adanya.

Kau sempat mengajakku menyusuri jalan setapak itu, mengajak singgah sebentar,  dan aku mendapatkan kehangatan dari mereka yang kau anggap keluarga.

Teh itu tak pernah terasa dingin, sebelum gemetar sudah menjalar dan mengalir. Dugaan tentang tidak diterima, takut salah kata, dan banyak hal lain tentang anggapan rumit yang ku ciptakan sendiri.

Mereka begitu ramah. Dan aku menyukainya.
Ibumu, ayahmu, adikmu, kakakmu dan semua yang kamu kenalkan kepadaku.

Rasanya lucu,  merasa asing yang bagimu sudah terlalu biasa. Ah, kala itu.

@dyah_fi 30 Maret 2019

Jumat, 29 Maret 2019

Dan tentangku

Jika kaki ku tak mampu lagi untuk menapak, ku harap ada tangan yang akan menuntunku untuk berjalan

Jika mataku sudah tak jelas memandang, ku harap ada dekapan yang bisa mengertiku tentang dunia

Tentangku,
Aku tahu semua akan menua pada masanya
Tanganku tak lagi kuat
Rambutku tak lagi hitam lebat
Mataku tak setajam kala memandang
Bibirku bergetar kala bicara
Langkahku perlahan gemetar
Dan aku, kehilangan keseimbangan

Tongkat tua itu akan menjadi temanku
Suatu saat,
Jika dirimu atau diriku telah lebih dulu sekarat
Percayalah, tentangmu tak akan tamat

Rasaku tetap abadi,
Kini, esok, dan setelahnya nanti

Aku percaya,
Sebab Tuhan telah menceritakan
Aku, kamu, kita
Tua dalam ikatan rasa

Dan aku,
Tetap pada rasaku sebenarnya!

@dyah_fi Surabaya, 29 Maret 2019

Sabtu, 23 Maret 2019

Kini aku

Dulu, di tengah tatanan lampu kota itu aku sering menghabiskan malamku dengan ditemani secangkir cappucino, dan aku melepaskan lelahku. Selepas kerja, atau saat sedang suntuk-suntuknya.

Aku tidak tahu lagi, apakah dengan seperti itu laraku terkurangi tapi yang jelas sakitku sedikit terobati.

Dulu, seringnya aku bersamamu. Tapi bagiku kini, sendiri atau bersama rasanya sama saja.

Sekarang tempat itu sudah benar-benar asing, sudah usang, dan rasanya enggan untuk mengulang. Tapi bagaimanapun di tempat itu, aku merasa nyaman.

Semenjak kamu tiada, aku berganti nama menghabiskan sebuah cerita. Masih dengan tempat yang sama, tempat duduk yang sama, kopi yang sama, rasa yang sama, waktu yang sama, tapi aku menikmatinya dengan rasa yang berbeda.

Entahlah, apa yang membuat kopi itu terasa hambar. Padahal yang ku pesan adalah cappucino seperti biasanya. Mungkin rasanya menjadi aneh ketika aku menghabiskan bersama orang yang berbeda.

Aku tidak tahu lagi, kapan lagi aku siap untuk kembali ke tempat itu. Tempat dengan sejuta kenangan, tawa, air mata, cita-cita yang pernah ku katakan sebelumnya, hingga kamu mengiyakan, dan aku mewujudkannya sendiri.

Bodohnya lagi, kenapa aku hanya memintamu untuk mendukungku? Harusnya aku memintamu untuk tetap tinggal.

Salahnya aku, berlari sendiri pada tujuanku, yang melepaskan genggaman tangan itu.

Ah, bodoh.

Dan kini, aku tetap berdiri, tetap berlari sendiri. Sedang kamu telah pada pencarianmu.

Maaf, dulu aku tak sempat mengajakmu berlari, hingga kamu tertinggal, dan kini aku sendiri.

@dyah_fi Surabaya, 23 Maret 2019

Rabu, 20 Maret 2019

Bersyukur itu harus

Terkadang hidup tak melulu bisa beriringan dengan yang diharapkan. Aku inginnya apa, takdir berkata apa. Lucu ya, terkadang manusia tidak sempat untuk memandang luas arti syukur. Mungkin mereka tidak tau caranya, atau mungkin memang mereka tidak merasakannya?

Entahlah, serupa ombak yang mencari peraduan, aku sang pengelana mencoba untuk mencari celah dimana aku harus tau tentang makna.
Bayangkan saja, hidupku dipenuhi dengan canda, tawa, tangis, bahagia, lalu sedih. Dan fase itu terjadi secara berulang-ulang, dan aku tidak bosan.

Apakah seperti itu yang dinamakan dengan hidup??

Sejak saat itu aku mulai menyadari, jika yang datang belum tentu dia akan menetap, yang sudah menetap tidak memungkinkan kesempatan untuk pergi, yang pergi bisa saja kembali, atau bahkan yang tidak diharapkan akan senang hati untuk datang.

Tuhan punya skenario terindah, suatu hari nanti. Entah kamu suka atau tidak, itu urusanmu. Dan yang jelas kamu harus yakin jika itu adalah yang terbaik.

Dia mematahkan hatiku, kini. Atas seseorang yang ku perjuangkan hingga rasa mati. Dia sudah bahagia, yang ku tahu. Aku, masih disini saja.

Entahlah, pikiranku tidak pernah lepas oleh bayangan semu itu, dan aku berusaha untuk menepisnya. Dia datang lagi dan lagi. Aku sudah mencoba untuk kuat, berusaha untuk tidak ingat, tapi apa boleh buat jika rasaku padanya masih melekat.

Aku mencoba untuk meniadakan yang sudah ada, yang tetap ada. Dia tidak kunjung hilang, malahan ketika aku berusaha untuk melupakan, dia semakin kuat di ingatan.

Mungkin itu takdir Tuhan yang mengingatkan ku untuk kembali berserah padanya. Mungkin Tuhan iri, aku dekat dengan dia, tapi aku tidak dekat dengan DiriNya.

Mungkin dengan cara itu, Tuhan berharap aku untuk mengingatnya lagi. Menjadikan aku yang lebih pantas, atas salah yang terlintas.


"Cintai dulu Rabbmu, maka kamu akan menemukan orang yang bisa mencintaimu dengan caraNya"

@dyah_fi Surabaya, 18 Maret 2019