Cerita ini berawal dari penutupan 2018 yang mengubah keputusan hidup yang kujalani, kini. Memutuskan untuk mengakhiri sebuah hubungan lantaran godaan rumput tenaga yang lebih hijau, pun juga lebih pandai bergoyang.
Menari di atas segala keputusan lalu lari dari kenyataan yang hingga kini belum tahu keputusan itu menjadikan benar, atau salah kaprah.
Ya, Desember 2018. Aku memberanikan diri untuk memutuskan pertunangan dengan seseorang yang sudah menemaniku selama dua tahun memulai dari nol hingga berdiri sendiri, mandiri dan tidak menjadi lemah seperti dulu.
Januari 2019, aku mengawali Januariku dengan susah payah, semua keluarga masih menyalahkan keputusan yang kubuat sepihak mata. Tanpa merasa salah, aku masih mengukuhkan pendapatku sendiri dengan dalih "kebahagiaanku, adalah aku. Bukan orang lain yang memutuskan". Dan tanpa aku sadari, bapak mulai sakit, ibu sakit, dan Januari kulewati dengan sisa tenaga yang kupunya. Tanpa seorangpun yang menguatkan. Sebisaku aku bangkit, menahan rasa sakit, sendirian. Lalu aku memutuskan untuk memutar kendali. Berkunjung ke kota Jogja. Kota yang pernah aku jalani malamnya dengan orang spesial, itu. Rasanya lucu saja. Berkunjung untuk menemui kenangan yang pernah terlewati, yang menjadi cita-cita dengan seseorang yang berbeda, yang kuperjuangkan sepenuh hati hingga dia merampas mimpi yang telah kita sepakati.
Bulan kedua, aku memutuskan untuk terus berlanjut. Mengelilingi Jawa Timur, menikmati dunia, lalu membunuh rasa sakit yang pernah mampir di dada. Hingga aku jadi malas pulang ke rumah, karena sudah tidak kutemui rasa nyaman. Namun rasa rindu, tetaplah ada. Rindu ketika bercengkrama dengan ibu bapak, meskipun yang dibahas hanya perkara salah di mata mereka. Rindu makan masakan ibu yang rasanya biasa saja, tapi istimewa. Rindu bercerita mengenai beban berat yang kupanggul sendiri, tentang pekerjaan, tentang pendidikan, dan tentang susahku sendiri. Dan seringnya ibu malah berkata, salahmu sendiri mengambil resiko yang tidak diingini semua orang. Rasanya sakit, sekali. Mendengar ucapan seperti itu. Aku, berusaha sekuat kuatnya aku. Berusaha untuk tidak menghiraukan. Tapi tetap saja, rasanya tetap seperti dihujam ratusan peluru. Sakit, tapi tidak berdarah.
Bulan ketiga, aku pergi ke Malang. Kota yang penuh kenangan kedua setelah Jogja. Ya. Kotamu, Sept. Orang yang kuperjuangkan sepenuh hati, yang menghancurkan mimpiku sendiri. Tapi tak apa, berkatmu aku pernah merasakan hancur, sakit, lalu bangkit.
Bulan keempat dan kelima, rasanya mimpiku mulai ada lagi, aku ingin segera kembali pulang, ingin resign dari pekerjaan yang sekarang menghidupi, pulang ke rumah, bekerja di rumah, dekat dengan ibu bapak, merawat mereka, tapi aku sudah terlanjur terjun memutuskan untuk melanjutkan pendidikan demi membalas rasa salah yang pernah kubuat sendiri. Menjalani bulan puasa masih seperti dulu. Jauh dari orang tua, dan hubungan dengan kerabatpun masih sangat berjarak. Aku memang berjanji untuk menebus semua caci maki yang pernah terlontar dari mulut tetangga.
Bulan ke enam, sehabis lebaran. Aku memutuskan untuk kembali mengunjungi kota kenangan, lagi. Ya, Jogja. Touring selama tiga hari, yang lumayan menguras tenaga. Tidur di hotel merah putih, di emperan masjid, makan nasi kucing seribuan. Tapi rasanya hilang semua beban yang terkurung di dalam dada. Senang bisa bersama mereka, laki-laki yang bisa melindungi wanitanya. Tau dan mengerti rasanya solidaritas. Menghargai waktu. Berselisih paham lalu berbiasa, lagi. Menikmati keindahan dengan biaya seadanya. Dan, rasanya luar biasa. Ternyata, mereka mengajarkan bahwa bahagia bisa diraih bukan dengan gaya dan uang.
Bulan ketujuh. Aku memutuskan mengunjungi kotamu lagi, Sept. Malang. Di Bromo lebih tepatnya. Dan adikmu menghubungiku, lagi. Katanya "kenapa aku tidak pernah lagi ke rumahmu, disuruh mampir untuk memperkuat rindu". Tak apa, itu sedikit cerita tentang Agatha dan Adel, adik kecilmu yang penurut. Tapi setidaknya, ketika aku dan kamu sudah tidak bersama, setidaknya yang putus adalah hubungan kita, bukan semuanya. Tak banyak yang harus diingat dari cerita kelam, bersama. Tapi bagaimanapun, kamu masih yang terindah, meskipun kamu memutuskan untuk tanggal.
Bulan kedelapan. Aku kembali lagi pada tujuan awal di 2019 ku, kembali menyusuri setiap sudut jalan dan berpetualang. Haha, kataku. Ya, aku berkunjung ke Magetan, mencari suasana tenang dan dingin. Tidak ada yang istimewa di bulan kedelapan dalam 2019, masih persoalan mengenai aku berusaha kuat dengan lari dan bersembunyi. Tak apalah, aku disebut pecundang. Toch, banyak masalah yang tidak pernah aku ungkapkan. Masih kusimpan baik-baik dan rapat. Sebab tidak semua teman bisa dipercaya, bukan?
Bulan kesembilan, kesepuluh. Banyak masalah yang sebenarnya terjadi. Mulai keuangan kacau, masalah rumah banyak, rapuh lagi, nangis lagi, dan berat. Sudah tidak begitu akrab dengan kerabat, masih ditambah dengan persoalan berselisih paham dengan kakak kandung sendiri. Tidak usah diceritakan, cukup disimpan saja.
Bulan kesebelas. Aku kembali lagi, menghabiskan sakit dengan kebahagiaan. Berkunjung ke kota Batu, me-restart otak, dan berswafoto.
Bulan kedua belas sekaligus menjadi bulan penutup. Bahagia lagi, menjelajahi kota Pacitan, yang menjadi destinasi mimpi yang kurencanakan jauh-jauh hari. Bersama laki-laki yang mengerti wanitanya. Menjadi wanita yang beruntung, merasakan menjadi ratu sehari, dan menyenangkan.
Tuhan, terimakasih. 2019 berisi tentang sakit, hancur, bangkit, lalu kuat. Tidak ada kata puitis dan galau lagi, tidak menceritakan laki-laki spesial, dan aku bahagia dengan hidupku, sekarang. Aku tidak peduli, kamu sudah berapa kali ganti wanita sebagai penggantiku. Dan akupun, tidak peduli lantaran hati yang kosong tanpa pengisi. Aku tidak fokus lagi, mencari penggantimu. Bukan karena aku masih sayang, ataupun tidak pandai menghilang. Tapi perkara kebahagiaan, bukankah kita tidak perlu berlomba untuk mendapatkannya?? Tidak perlu buru-buru, dan terlalu cepat menjatuhkan hati. Sebab aku, terlampau bosan dengan perkenalan tanpa tujuan. Karena nanti, perkenalan tanpa perencanaan, akan melahirkan akhir yang patah, lagi. Terimakasih, untukmu dan karenamu, aku kuat. Dan bermertafosis menjadi hebat. Aku, membanggakan diriku sendiri. Tidak perlu butuh pengakuan untuk diakui.
@dyah_fi Surabaya, 24 Januari 2020