Jumat, 10 Juli 2020

hai, Juli

Hai Juli, selamat pagi. Maaf, baru sempat menyapamu, sekarang. Maaf ya, aku lemah sekarang. Ternyata yang kuharapkan tak berbalas dengan sepadan. Entah, kenapa engkau berakhir seperti Juli ku, 2018 lalu. Berakhir dengan tragis, dan tangis. 
Aku tidak tahu bagaimana cara untuk memperbaikimu. Kau adalah sebagian dari rencana besarku. 
Rencana pada bulan-bulan sebelumnya. Dia pergi, dengan harapan yang ia lukiskan sendiri. Dan dia, mengingkari apapun yang telah disepakati. Aku tidak tahu, bagaimana lagi harus berusaha baik-baik saja.
Nyatanya, aku lemah sekarang.
Aku tidak tahu kenapa Juli selalu mengecewakan.
2018 lalu, aku tunangan dan gagal. Dan sekarang aku berjuang, tapi perjuanganku tak berakhir dengan kebaikan. 
Imam, namanya. Seseorang yang ada pada doaku, tapi dia pergi meninggalkanku. Semua yang terucap hanya omong kosong..
Tuhan, jika memang bukan untukku, jauhkan dia sejauh-jauhnya. Jangan pernah bertemu lagi dengannya. Aku tak ingin merasakan sakit, lagi. Beri ganti aku, dia yang mencintaimu. Dia yang namanya sudah Kau tulis pada buku takdirku. Aku akan menerimanya dengan lapang dada. Sembuhkan aku, Tuhan. Dari kesakitan yang berkepanjangan. Ampuni aku!



@dyah_fi Surabaya, 10 Juli 2020

Senin, 15 Juni 2020

hai, juni

Hai, Juni. Bulan yang kuawali dengan kebaikan. Semoga berakhir baik juga ya... Aamiin 🙂 .
Ceritaku sederhana, bertemu dengan lelaki baru yang sudah kukenal lama, sebelumnya. Tidak tahu juga, kenapa bisa sedekat ini. Yang jelas, dia lebih pasti dari dia yang kuharapkan. Rasanya ingin mengakhiri segala drama yang kubuat selama tiga bulan ini. Drama sakit hati yang kutelan sendiri, sedangkan dia tidak pernah peduli. Aku berjumpa lagi dengan pria kaku yang kutemui dulu. Oki Wildan, namanya. Pria kelahiran 23 Oktober 1996. Aku terlalu takut untuk menjatuhkan hati. Takut untuk jatuh dan tidak bisa bangkit lagi.
Dia menginginkan komitmen, dulu. Dia mengharapkan aku menyelesaikan pendidikan, dia menyelesaikan pembangunan rumahnya. Entah, rasanya lucu saja.
Dulu, dia jadi orang yang paling kubenci sewaktu kerja di toko Katamso 1. Cuek, judes, sekali bicara membuat sakit hati. Rasanya ada pengharapan lebih terhadapnya. Tidak sama seperti saat aku bersama dia. Semoga saja, ya! Dia tidak seperti yang sebelumnya.
Tuhan, terimakasih. Telah mengirim dia yang baik. Semoga Engkau merestui apapun yang kulakukan setelah ini. Aamiin.

@dyah_fi Surabaya, 15 Juni 2020

Minggu, 31 Mei 2020

pengenalan pun kehilangan, Mei bersamamu

Hai, Mei. Selamat malam. Maaf ya, aku baru mengunjungimu. 
Ada sedikit cerita yang ingin kubagi, denganmu. Mengenai perjalanan singkat yang meninggalkan sedikit goresan luka.
Ya, rasanya kamu terlalu buru-buru untuk meninggalkan semua kisah yang baru saja kumulai. Aku tidak tahu kenapa kau berlalu secepat itu, tak secepat April, lalu. 
Dia pergi. Resign dari pekerjaan karena tak dapat melanjutkan kontrak kerjanya. Tak tahu juga, apa yang akan dibuat setelahnya. Katanya, "jangan kemana-mana, nanti kalau ada waktu luang aku akan kembali. Jangan nakal, jaga hati". Entah, aku tak tahu, itu tulus atau tidak, tapi yang jelas aku mengiyakan. Dia milik orang, aku mencintainya. Aku salah, sudah pasti. Salah sebab membiarkan rasa itu terus besar, dan aku tidak bisa menghentikannya. Ingin jauh saja.
Keinginanku, ketika dia sudah pergi, akupun juga ikut pergi. Tapi, rasanya komitmen yang telah dibangun mengatakan "jangan". 
Ah, Mei. Kenapa kamu begitu rumit perihal aku yang baru saja memulai membuka hati. Sekalinya membuka, bersama dia yang salah. 
Bodoh ya, aku!
Tapi, perlahan. Aku ingin melepaskan.
Aku tau, akhir dari kisahku tak akan pernah berhasil baik.
Pun aku juga pernah mengatakan jika aku hanya akan menjadi persinggahannya sementara.
Sebab aku percaya, level tertinggi dalam mencintai, adalah membiarkan dia memilih jalannya untuk bahagia.
Tak apa, biar aku melangkah lagi. Sendiri.
Dengan segala rasa yang pernah ada, dan penantian yang tak kunjung reda.
Aku mencintaimu, selalu.
Doaku, aku tetap membersamaimu.
Tapi, jika takdir Tuhan tak berpihak pada tujuan kita, tak apa. Semoga kita tetap menjadi insan yang baik, ya. Yang pernah saling membahagiakan, meskipun dengan cara yang salah.
Aku, mencintaimu.


Tertanda, 
@dyah_fi Surabaya, 31 Mei 2020

Selasa, 28 April 2020

April

Hai April. Aku rindu. Rindu menyapamu dengan senyum hangat dan sedikit cerita yang kubuat. Entah, Aprilku rasanya sama saja. Tak ada yang spesial ataupun lebih berarti dari yang sudah-sudah. 
Sebenarnya ada sedikit cerita yang ingin kubagi. Tentang perasaan yang kuciptakan dan aku, jatuh sendirian. Dan lagi-lagi, lukaku bertambah banyak saja. Sebenarnya aku menyadari. Yang kulakukan hanya membuatku patah, lagi. 
Kuat yang kubuat seakan berantakan. Aku menciptakan rasa dan menghancurkan diriku sendiri. Dengan segala pengharapan dan keputusan yang salah.
Aku menjatuhkan hati pada dia yang salah. Dia yang datang, dan menggantukan harapan. Tak ada yang salah diantara kejadian ini. Aku juga tidak melarang rasa itu tumbuh perlahan. Dan sekarang, aku harus bertanggung jawab pada keputusanku sendiri.
Aku sakit, sendiri.
Belum tahu rasanya bangkit, lagi.
April, aku tidak ingin menyalahkanmu, sebenarnya. Tapi lagi-lagi, kejadiannya sama dengan Aprilku 2018 lalu. Dan akhirnya, gagal. 
Aku sudah berusaha menghindar, tapi hati seakan melarang.
Lalu aku, menyalahkan siapa? Dia? Aku? Atau perasaan ?
Bodoh memang!

@dyah_fi Surabaya, 28 April 2020

Rabu, 26 Februari 2020

kosong.

Selamat malam, sayang.
Kataku pada diriku sendiri. Tidak ada hal spesial yang ingin kuceritan lagi. Mungkin hanya beberapa hal kecil yang terjadi akhir-akhir ini.
Entahlah. Setelah proses penyembuhan yang lama, rasanya aku belum ingin untuk membuka lembaran baru, lagi. Menjatuhkan hati dan menjalani hari bersama seseorang yang ingin menemani perjalananku. 
Aku masih menutup diri.
Bukan karena tidak ingin bersama, atau masih bersikap sama saja. Hanya saja, aku membenci pertemuan dan perkenalan tanpa tujuan yang pasti. Ya, karena aku percaya jika pertemuan dan perkenalan tanpa tujuan yang pasti hanya akan menjadikan akhir yang patah, lagi.
Entah, rasanya masih ada sedikit trauma.
Pernah berani memperjuangkan seseorang dengan susah, tapi tak dibalas dengan yang sepadan.
Sia-sia.
Iya, itu yang kudapatkan dari sakit dan pengorbananku dulu.
Untuk sekarang, rasanya masih terlalu ambigu jika harus menjatuhkan hati, lagi. 
Pikirku, umurku sudah bukan lagi untuk main-main perkara hati.
Aku sudah mulai bingung untuk menata masa depan. Menikah, berumah tangga, hidup di rumah bersama keluarga. Dan hal-hal yang menjadi mimpiku yang lainnya.
Tapi, untuk membuka hati saja, aku masih engah.
Malas untuk berbincang dengan laki-laki lain.
Seseorang pernah berkata kepadaku "kenapa masih sendiri? Bagaimana kamu bisa mendapatkan pasangan jika kamu masih menutup diri?"
Pikirku, "benar, kalimatnya".
Lalu, bagaimana?
Apa yang harus dilakukan?
"Aku, ingin sekali menjalani hari-hari seperti dulu." Kadang pikiran seperti itu, terbesit dalam kepala.
Dan aku, harus memikirkannya, lagi.


Aku tidak tahu, bagaimana aku sekarang.
Fokusku ingin belajar, bekerja, dan pulang. Tak ingin lebih.
Tapi, hal seperti jodoh dan hidup seterusnya harus dipikirkan, bukan?

Entah. Aku tidak tahu.
Aku hanya sering berdoa saja pada Tuhan. Berharap mendapatkan yang baik, dari yang sebelumnya gagal.
Tak ingin mengulangi rasa yang sakit. 
Tak ingin mengulangi kesalahan yang pernah kubuat, semasaku dulu.
Dan aku percaya.
Tuhan akan memberi yang baik, bagi mereka yang berusaha memperbaiki kan?
Lantas, kenapa masih suka dilema?
Tak apa,
Semua akan menikah pada waktunya.
Semua akan bahagia sesuai porsinya.
Perbaiki diri dulu ya,
Dan kamu akan mendapatkan yang baik.
Begitukan?



@diyah_fi Surabaya, 26 Februari 2020

Sabtu, 01 Februari 2020

teruntuk, Januari

Selamat pagi, Februari. Terimakasih untuk kejutan yang luar biasa indah. Targetku telah gagal satu. Yang ku targetkan untuk naik jabatan, hilang. Yang kurencanakan, hancur. Berantakan. Katanya, aku tak layak untuk menduduki posisi itu. Bukan perkara nilai yang kurang, atau perkara pekerjaan yang belum paham. Tapi, lantaran aku keras kepala yang membuat mereka berpikir aku tidak pantas untuk menjadi pemimpin.
Ya, aku gagal. Bukan gagal, lebih tepatnya aku belum beruntung. Beruntung untuk menggenggam yang sudah kuusahakan. 
Inginku, perubahan grade menjadi kado yang indah untuk Januari diusiaku ke dua puluh dua. 
Iri, ada. Bukan karena aku gagal, atau mereka berhasil. Tentu tidak. 
Hanya saja, yang aku usahakan tidak berbalas sepadan dengan pengorbanan. 
Dan aku pernah bertanya, apa aku memang tidak layak, atau hanya aku yang belum pantas? 
Aku, berusaha untuk baik-baik saja. Dalam hati, kata umpatan tetap terngiang-ngiang. Its okay. Semua akan baik-baik saja. 
Aku, kuat.
Tak apalah. Besok dicoba lagi.
Kalau ada kesempatan, lagi.
Kalau tidakpun, yang terpenting aku sudah mencoba, kan??
Terimakasih ya, Januari. Setidaknya bulanmu kulewati dengan banyak perjuangan, meskipun pengakhiranmu tidak sebaik yang aku inginkan. Semoga aku tetap bisa dewasa dengan segala masalah yang ada. 
Untuk Februari. Aku harap, kau akan lebih baik ya. Banyak yang harus kita selesaikan. Banyak target yang lain, yang harus diwujudkan. Tetap semangat. Jangan mudah menyerah dan mengeluh. Aku tau, kau kuat.
Good luck!!!!!!


@dyah_fi Surabaya, 01 Februari 2020

Jumat, 24 Januari 2020

kompilasi aksara di 2019

Cerita ini berawal dari penutupan 2018 yang mengubah keputusan hidup yang kujalani, kini. Memutuskan untuk mengakhiri sebuah hubungan lantaran godaan rumput tenaga yang lebih hijau, pun juga lebih pandai bergoyang.
Menari di atas segala keputusan lalu lari dari kenyataan yang hingga kini belum tahu keputusan itu menjadikan benar, atau salah kaprah.
Ya, Desember 2018. Aku memberanikan diri untuk memutuskan pertunangan dengan seseorang yang sudah menemaniku selama dua tahun memulai dari nol hingga berdiri sendiri, mandiri dan tidak menjadi lemah seperti dulu.
Januari 2019, aku mengawali Januariku dengan susah payah, semua keluarga masih menyalahkan keputusan yang kubuat sepihak mata. Tanpa merasa salah, aku masih mengukuhkan pendapatku sendiri dengan dalih "kebahagiaanku, adalah aku. Bukan orang lain yang memutuskan". Dan tanpa aku sadari, bapak mulai sakit, ibu sakit, dan Januari kulewati dengan sisa tenaga yang kupunya. Tanpa seorangpun yang menguatkan. Sebisaku aku bangkit, menahan rasa sakit, sendirian. Lalu aku memutuskan untuk memutar kendali. Berkunjung ke kota Jogja. Kota yang pernah aku jalani malamnya dengan orang spesial, itu. Rasanya lucu saja. Berkunjung untuk menemui kenangan yang pernah terlewati, yang menjadi cita-cita dengan seseorang yang berbeda, yang kuperjuangkan sepenuh hati hingga dia merampas mimpi yang telah kita sepakati.
Bulan kedua, aku memutuskan untuk terus berlanjut. Mengelilingi Jawa Timur, menikmati dunia, lalu membunuh rasa sakit yang pernah mampir di dada. Hingga aku jadi malas pulang ke rumah, karena sudah tidak kutemui rasa nyaman. Namun rasa rindu, tetaplah ada. Rindu ketika bercengkrama dengan ibu bapak, meskipun yang dibahas hanya perkara salah di mata mereka. Rindu makan masakan ibu yang rasanya biasa saja, tapi istimewa. Rindu bercerita mengenai beban berat yang kupanggul sendiri, tentang pekerjaan, tentang pendidikan, dan tentang susahku sendiri. Dan seringnya ibu malah berkata, salahmu sendiri mengambil resiko yang tidak diingini semua orang. Rasanya sakit, sekali. Mendengar ucapan seperti itu. Aku, berusaha sekuat  kuatnya aku. Berusaha untuk tidak menghiraukan. Tapi tetap saja, rasanya tetap seperti dihujam ratusan peluru. Sakit, tapi tidak berdarah.
Bulan ketiga, aku pergi ke Malang. Kota yang penuh kenangan kedua setelah Jogja. Ya. Kotamu, Sept. Orang yang kuperjuangkan sepenuh hati, yang menghancurkan mimpiku sendiri. Tapi tak apa, berkatmu aku pernah merasakan hancur, sakit, lalu bangkit.
Bulan keempat dan kelima, rasanya mimpiku mulai ada lagi, aku ingin segera kembali pulang, ingin resign dari pekerjaan yang sekarang menghidupi, pulang ke rumah, bekerja di rumah, dekat dengan ibu bapak, merawat mereka, tapi aku sudah terlanjur  terjun memutuskan untuk melanjutkan pendidikan demi membalas rasa salah yang pernah kubuat sendiri. Menjalani bulan puasa masih seperti dulu. Jauh dari orang tua, dan hubungan dengan kerabatpun masih sangat berjarak. Aku memang berjanji untuk menebus semua caci maki yang pernah terlontar dari mulut tetangga. 
Bulan ke enam, sehabis lebaran. Aku memutuskan untuk kembali mengunjungi kota kenangan, lagi. Ya, Jogja. Touring selama tiga hari, yang lumayan menguras tenaga. Tidur di hotel merah putih, di emperan masjid, makan nasi kucing seribuan. Tapi rasanya hilang semua beban yang terkurung di dalam dada. Senang bisa bersama mereka, laki-laki yang bisa melindungi wanitanya. Tau dan mengerti rasanya solidaritas. Menghargai waktu. Berselisih paham lalu berbiasa, lagi. Menikmati keindahan dengan biaya seadanya. Dan, rasanya luar biasa. Ternyata, mereka mengajarkan bahwa bahagia bisa diraih bukan dengan gaya dan uang. 
Bulan ketujuh. Aku memutuskan mengunjungi kotamu lagi, Sept. Malang. Di Bromo lebih tepatnya. Dan adikmu menghubungiku, lagi. Katanya "kenapa aku tidak pernah lagi ke rumahmu, disuruh mampir untuk memperkuat rindu". Tak apa, itu sedikit cerita tentang Agatha dan Adel, adik kecilmu yang penurut. Tapi setidaknya, ketika aku dan kamu sudah tidak bersama, setidaknya yang putus adalah hubungan kita, bukan semuanya. Tak banyak yang harus diingat dari cerita kelam, bersama. Tapi bagaimanapun, kamu masih yang terindah, meskipun kamu memutuskan untuk tanggal.
Bulan kedelapan. Aku kembali lagi pada tujuan awal di 2019 ku, kembali  menyusuri setiap sudut jalan dan berpetualang. Haha, kataku. Ya, aku berkunjung ke Magetan, mencari suasana tenang dan dingin. Tidak ada yang istimewa di bulan kedelapan dalam 2019, masih persoalan mengenai aku berusaha kuat dengan lari dan bersembunyi. Tak apalah, aku disebut pecundang. Toch, banyak masalah yang tidak pernah aku ungkapkan. Masih kusimpan baik-baik dan rapat. Sebab tidak semua teman bisa dipercaya, bukan?
Bulan kesembilan, kesepuluh. Banyak masalah yang sebenarnya terjadi. Mulai keuangan kacau, masalah rumah banyak, rapuh lagi, nangis lagi, dan berat. Sudah tidak begitu akrab dengan kerabat, masih ditambah dengan persoalan berselisih paham dengan kakak kandung sendiri. Tidak usah diceritakan, cukup disimpan saja.
Bulan kesebelas. Aku kembali lagi, menghabiskan sakit dengan kebahagiaan. Berkunjung ke kota Batu, me-restart otak,  dan berswafoto.
Bulan kedua belas sekaligus menjadi bulan penutup. Bahagia lagi, menjelajahi kota Pacitan, yang menjadi destinasi mimpi yang kurencanakan jauh-jauh hari. Bersama laki-laki yang mengerti wanitanya. Menjadi wanita yang beruntung, merasakan menjadi ratu sehari, dan menyenangkan.


Tuhan, terimakasih. 2019 berisi tentang sakit, hancur, bangkit, lalu kuat. Tidak ada kata puitis dan galau lagi, tidak menceritakan laki-laki spesial, dan aku bahagia dengan hidupku, sekarang. Aku tidak peduli, kamu sudah berapa kali ganti wanita sebagai penggantiku. Dan akupun, tidak peduli lantaran hati yang kosong tanpa pengisi. Aku tidak fokus lagi, mencari penggantimu. Bukan karena aku masih sayang, ataupun tidak pandai menghilang. Tapi perkara kebahagiaan, bukankah kita tidak perlu berlomba untuk mendapatkannya?? Tidak perlu buru-buru, dan terlalu cepat menjatuhkan hati. Sebab aku, terlampau bosan dengan perkenalan tanpa tujuan. Karena nanti, perkenalan tanpa perencanaan, akan melahirkan akhir yang patah, lagi. Terimakasih, untukmu dan karenamu, aku kuat. Dan bermertafosis menjadi hebat. Aku, membanggakan diriku sendiri. Tidak perlu butuh pengakuan untuk diakui.

@dyah_fi Surabaya, 24 Januari 2020