Minggu, 31 Mei 2020
pengenalan pun kehilangan, Mei bersamamu
Selasa, 28 April 2020
April
Rabu, 26 Februari 2020
kosong.
Sabtu, 01 Februari 2020
teruntuk, Januari
Jumat, 24 Januari 2020
kompilasi aksara di 2019
Selasa, 16 Juli 2019
Sedang aku, ikhlas!
29 Juni 2018, tepat dimana aku merasa canggung bertemu dengan orang baru yang sering kau sebut sebagai ibu. Beliau begitu ramah untukku yang baru saja memulai kata "selamat malam, maaf merepotkan" . Lalu beliau menjawab "minum teh dulu biar hangat, sebab angin terlampau kencang bersemangat". Kau dan ibumu tampak begitu dekat, sedangkan aku masih merasa canggung untuk menjawab. Batinku berkata "ah, untung saja tidak ditanya apa-apa" . Mungkin beliau yang kau sebut ibu sudah tidak asing lagi mendengar namaku. Beliau yang sempat menjadi tempat peraduan kisah mu denganku. Dan hingga beliau ingin tahu dan kamu menunjukkan salah satu fotoku. Katanya "manis, giginya tidak rapi seperti Adikmu" . Bahagianya aku kala itu, sempat dekat dan bercumbu dengan adikmu, adik yang sifatnya hampir sama denganku. Berambut ikal, manja padamu. Aku mencintai dia, yang baru saja aku tatap. Dia yang dengan polosnya melihatku siapa, yang duduk bersebelahan denganmu pada pertama kalinya. Adel, begitu kau memanggilnya. Aku tidak tahu, rasanya malam itu terlampau cepat berlalu. Pukul 10 malam, aku membangunkanmu mengajak pulang. Kamu yang setengah mengantuk, memaksa untuk membuka mata dan mengangguk. Tanda mengiyakan ajakanku untuk pulang. Aku tahu, saat itu kamu sedang letihnya karena perjalanan. Dan kau dengan sabar "iya, kita pulang sekarang". Dan kau menciumku lalu bergegas berdiri untuk berpamitan. Ibumu menahanku untuk tetap tinggal. Mungkin beliau kasihan melihatmu kelelahan seharian. Dan aku tetap pada pendirianku untuk kembali.
Pada tengah perjalanan, kita saling menangis, memeluk keadaan. Kau menggenggam tanganku erat, dan aku memelukmu dengan hangat. Jaket merah yang kau pinjamkan karena aku menggigil kedinginan, basah kuyup dengan air mata kepedihan. Ya, kita berpisah, kalah oleh keadaan. Bahagiaku datang secepat itu, dan pergi semudah itu. Aku mencintaimu, tulus. Dan kau pun sama. Sedang keadaan terlampau berbeda.
Kini, kita telah melupa. Menjadi sepasang dua orang asing yang tidak mengenal, satu sama lain. Semoga kau bahagia bersama dia, seterusnya.
@dyah_fi Surabaya, 16 Juli 2019
Selasa, 14 Mei 2019
Kau tahu
Kau tahu apa yang lebih menyakitkan daripada kesepian?
Senja sore kala itu. Jingga, merekah, mewah. Begitulah kira-kira. Dan aku tetap duduk sendiri pada bangku kosong yang setiap hari hampir kududuki. Bosan, tidak ada sedikitpun rasa itu..
Aku suka tempat itu. Tempat dimana sajak dan puisiku tetap terdengar nyaring oleh untaian kata yang tidak pernah mendapat balas.
Mengirim pesan tak ada jawaban. Menunggu kepastian tak kunjung datang.
Aku tidak tahu siapa yang bodoh dalam hal ini. Rupanya, kita sama-sama bodoh. Aku bodoh tetap mendambamu, kamu bodoh karena telah buta pada yang pasti.
Aku tetap tidak tahu rahasia apa yang pernah kamu bicarakan sebelumya, hingga aku tetap tidak pernah tahu pada apa yang membuatmu pergi, kala itu.
Kamu tahu, setiap sakit aku hanya ingin sembuh. Setiap kumat aku hanya ingin terawat. Setiap rindu aku ingin kamu yang menjadi obat.
Kamu tahu apa yang lebih sakit daripada kesepian?? Yang lebih sakit daripada kesepian adalah berbincang dengan diri sendiri, menyakini sepenuh hati, jika kamu tetap tinggal dan tidak pergi sedangkan kenyataannya kamu hilang dan tidak kunjung kembali.
@dyah_fi Surabaya, 14 Mei 2019